Peluncuran Sekolah Politik Wacana Kita

sekolah politik wacana kitaPeluncuran Sekolah Politik “Wacana Kita”

Tema:

“Perspektif Wacana Kritis Dalam Pembacaan Realitas Sosial dan Politik Lokal Sebagai Bekal Stakeholders Politik Kota Probolinggo”

Sekolah Politik “Wacana Kita hadir untuk melengkapi wacana kritis dalam politik lokal Kota Probolinggo. Wacana Kritis yang ditawarkan oleh Sekolah Politik “Wacana Kita” ini adalah pembacaan wacana yang sedang berkembang (pembacaan realitas sosial — politik) secara kritis untuk ditafsir dan disikapi sebagai asupan pembelajaran kontekstual untuk membentuk sikap kritis pembelajar politik baik secara konseptual maupun kontekstual.

Pemahaman tentang “wacana kritis” dan mengapa wacana kritis dibutuhkan dalam menyikapi dinamika politik lokal, akan menjadi lebih mudah dengan contoh nyata, misalnya dalam dinamika pilkada yang sedang berlangsung. Realitas politik seperti dalam pilkada ini sarat dengan pembelajaran akademik maupun praktis.

Dalam perspektif wacana kritis, pertarungan politik adalah pertarungan wacana, yang diproduksi oleh para pemain politik.

Dalam konteks pilkada misalnya, adalah para peserta pemilihan (kontestan). Efektivitas komunikasi politik yang dilancarkan kontestan terhadap masyarakat melalui kampanye dapat ditelusuri melalui jejak image figur, karena kampanye pada dasarnya adalah penancapan imaji (image) figur calon pada pikiran publik (public mind) sehingga diingat masyarakat.

Efek komunikasi politik ini untuk menjelma menjadi pilihan partisan (konkret) masih dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain keterikatan atau kedekatan pada calon, yang sebenarnya lebih merupakan kedekatan persepsi publik terhadap calon.

sekolah politik wacana kita
Suasana Peluncuran Sekolah Politik “Wacana Kita”, bertema “Analisis Wacana Kritis Sebagai Pembacaan Realitas Sosial-Politik, Bekal Stakeholders Politik Kota Probolinggo”

Pemilihan sebenarnya adalah persoalan persepsi.

Siapa yang dapat mempertahankan persepsi positif dari masyarakat, akan terpilih.

Nah, setelah terpilih menjadi walikota dan wakil walikota, tugas masyarakat pemilih adalah memastikan calon pilihannya tersebut dapat mempertahankan persepsi positif yang telah dibangunnya selama kampanye.

Persepsi positif ini muncul dari janji-janji kampanye berikut penampilan dan segala ucapan yang dilontarkan selama kampanye. Dalam ilmu wacana, ini disebut “produksi wacana”. Setiap paslon memproduksi wacananya masing-masing untuk merebut hati pemilih agar memilihnya dalam pemungutan suara 27 Juni mendatang.

Sebagai contoh pembacaan atau analisis dimaksud, saya unjukkan kondisi terkini dinamika sosial – politik yang sedang terjadi dan tersaji di hadapan kita, yakni pilkada. Apa yang bisa kita baca? KIta tengok dulu “apa yang ada di permukaan”, kemudian boleh kita lanjut melakukan pembacaan secara lebih mendalam.

Yang ada di permukaan adalah kejadian yang dapat kita indera melalui penginderaan sosial yang didapat dari survey.

Kita tengok data survey kondisi sosial di lapangan pra-pilkada… yakni “survey perilaku pemilih”…

Menurut data survey “Perilaku Pemilih Pada Pilkada Kota Probolinggo 2018” yang dilakukan Sekolah Politik “Wacana Kita”, dengan margin error 4% dan jumlah responden 600 orang di 5 kecamatan dan 29 kelurahan, pada periode Mei 2018, diperoleh data, figur calon walikota yang paling diingat atau tertanam di benak masyarakat, diketahui dari spontanitas jawaban responden ketika ditanya siapakah calon walikota anda, maka jawaban yang disebut pertama kali menandakan tertanamnya figur calon tersebut di benak masyarakat (public image planting). Kondisi ini disebut top of mind awareness (kesiagaan pikiran tertinggi).

Pada pengukuran top of mind awareness ini, tertinggi sebesar 48,3% diraih oleh Habib Hadi Zainal Abidin, disusul Fernanda Zulkarnain sebesar 27,7%, Suwito 13,9% dan Syamsu Alam 8,9%. Top of mind awareness ini sifatnya personal.

Pengukuran top of mind awareness diikuti pula dengan pengukuran popularitas dan elektabilitas, yang diukur secara spontan atau tanpa menunjukkan nama dan dengan menunjukkan nama. Popularitas spontan atau tingkat dikenalnya calon walikota oleh masyarakat yang diukur secara spontan yakni tanpa memberi petunjuk nama-nama calon, Habib Hadi Zainal Abidin menempati urutan teratas yakni pada angka 76,7%, disusul Fernanda Zulkarnain 68,8%, Syamsu Alam 48,7% dan Suwito 40%.  

Pada pengukuran elektabilitas spontan, yakni yang menggambarkan tingkat pilihan (voted) terhadap nama calon walikota secara spontan atau tanpa memberi petunjuk nama-nama calon, urutan tertinggi adalah Habib Hadi Zainal Abidin 33,5%, kemudian Fernanda Zulkarnain  22,5%,  disusul Syamsu Alam 5,7% dan terakhir Suwito 1,8%.

Pada pengukuran popularitas pasangan calon, yakni tingkat pengenalan masyarakat terhadap calon, yang dilakukan dengan memberi petunjuk nama-nama pasangan calon, urutan tertinggi adalah pasangan Habib Hadi Zainal Abidin –  Moch. Soufis Subri sebesar 83,7%, disusul Fernanda Zulkarnain – Zulfikar Imawan sebesar 78%, kemudian Syamsu Alam – Kulup Widyono sebesar 58,5% dan terakhir Suwito – Ferry Rahyuwono sebesar 48%.

Sedangkan pengukuran untuk elektabilitas pasangan calon, yakni yang menggambarkan tingkat pilihan (voted) dengan memberikan petunjuk nama-nama calon, diperoleh angka 40,8% untuk paslon Habib Hadi Zainal Abidin – Moch. Soufis Subri, kemudian 23,9% untuk Fernanda Zulkarnain – Zulfikar Imawan, 5% untuk Syamsu Alam – Kulup Widyono dan 1,2% untuk Suwito – Ferry Rahyuwono.

IIustrasi Peta Persepsi Pemilihan Terhadap Calon/ Paslon

Kategori Persepsi Pilihan Suwito – Ferry  Rahyuwono Fernanda Zulkarnain – Zulfikar Imawan Syamsu Alam – Kulup Widyono Habib Hadi ZA – Soufis Subri
Top of Mind Awareness 13,9% (Suwito) 27,7% (Fernanda) 8,9% (Syamsu) 48,3% (Habib)
Popularitas Spontan 40% (Suwito) 68,8% (Fernanda) 48.7% (Syamsu) 76,7% (Habib)
Elektabilitas Spontan 1,8% (Suwito) 22,5% (Fernanda) 5,7% (Syamsu) 33,5% (Habib)
Popularitas Paslon 48% 78% 58,5% 83,7%
Elektabilitas Paslon 1,2% 23,9% 5,0% 40,8%

Sumber Data: Sekolah Politik “Wacana Kita”, “Survey Perilaku Pemilih Pada Pilkada Kota Probolinggo 2018”, Probolinggo, Mei 2018.

Masyarakat Kota Probolinggo menunjukkan gambaran perilaku memilih yang cukup partisipatif, mereka mengaku telah mengetahui para calon walikota, dengan angka 83,8%, artinya masyarakat telah cukup mengenal calon. Sisanya, 10,3% menjawab tidak mengenal dan 5,9% tidak menjawab. Angka-angka tersebut juga menunjukkan bahwa secara umum masyarakat Kota Probolinggo telah mengenal para calon pemimpinnya dengan cukup baik.

sekolah politik wacana kita
Suasana Peluncuran Sekolah Politik “Wacana Kita”

Namun terdapat beberapa variasi dalam  persepsi pemilih yang mengindikasikan kedekatan persepsi yang dibangun para calon. Tinggal bagaimana mereka mampu merawat kedekatan persepsi tersebut hingga terbawa ke bilik TPS pada 27 Juni mendatang.

Perubahan persepsi terhadap calon senantiasa terjadi setiap waktu. Perubahan ini dipengaruhi oleh kehadiran berbagai wacana yang menghampiri benak warga masyarakat yang berpadu dengan pengetahuan yang dimiliki masyarakat.

Pemilih kota Probolinggo juga menunjukkan bahwa mayoritas mereka adalah pemilih yang otonom atau bebas atau dengan kata lain, mengikuti pilihan sendiri, yaitu sebesar 75,5%. Sedangkan yang berdasarkan arahan atau pengaruh pemimpin atau pemuka agama berkisar 12%. Sisanya, dari teman atau keluarga sebesar 9,1%, pengaruh tokoh parpol sebesar 1,7%, pengaruh media massa sebesar 1,2% dan pengaruh ormas sebesar 0,5%. Kemandirian pemilih ini mengindikasikan kedewasaan dalam berpolitik.

Dalam konteks politik lokal Kota Probolinggo ini, yang tak kalah pentingnya adalah, bagaimana kemudian, persepsi yang telah terbangun di masyarakat itu terejawantah (atau bergeser) ketika si paslon terpilih menjadi kepala daerah definitif. Dan masyarakat memiliki kemauan dan kemampuan untuk memastikan paslon terpilih itu selaras atau tidak, dengan persepsi yang telah dibangun itu.

Di sinilah titik peluang masyarakat untuk menggunakan perspektif wacana kritis untuk “melawan” wacana yang nanti dibangun dan diproduksi oleh paslon terpilih dalam pemerintahannya.

Pada titik ini terdapat “perlawanan” terhadap wacana dominan penguasa, yang sebenarnya adalah penyeimbangan kuasa wacana antara masyarakat dan pemerintah.

Singkatnya, wacana-rakyat versus wacana-pemerintah. Karena semua adalah pertarungan wacana.

Baca: Melawan Dominasi Wacana Mainstream: Pertarungan Wacana Dalam Perebutan Panggung Kuasa

Pada konteks ini, Sekolah Politik “Wacana Kita” menawarkan gagasan penyeimbangan kuasa wacana melalui penguatan kapasitas masyarakat sipil (civil society) dan elemen-elemen demokrasi lainnya seperti partai politik dan media massa.

Selanjutnya, membangun wacana kritis dalam pembelajaran politik bersama para peserta Sekolah Politik “Wacana Kita” dalam 3 output: skills dasar, menengah dan lanjut. Skills dasar meliputi pemahaman, menengah menjangkau keminatan dan skills lanjut adalah persiapan menjadi politisi yang berintegritas berbasis kerakyatan.***

Wawan E. Kuswandoro

Dosen FISIP Universitas Brawijaya, Pendiri Sekolah Politik “Wacana Kita”

 

Publikasi:

http://dinamikabangsa.com/detailpost/jelang-lebaran-susana-politik-di-kota-probolinggo-semakin-

 

 


5 thoughts on “Peluncuran Sekolah Politik Wacana Kita

Leave a Reply (Tulis Balasan atau Komentar)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s