Hasil Pilpres 2019 Yang Benar

Residu politik kedua pasca gelaran pemilu 2019 adalah perbedaan pendapat dan keyakinan sekitar hasil penghitungan suara pemilu presiden (pilpres) 2019.

[Baca tulisan saya sebelumnya: Politik Uang: Masih Mentahnya Relasi Politik; politik uang sebagai residu politik satu].

Residu politik kedua ini tak kalah hebohnya dengan residu politik satu, meskipun hebohnya cuma di medsos dan di level rasan-rasan (gunjingan) antar tetangga dan di warung kopi, dengan bahasa: “kecurangan pemilu 2019”. Media mainstream tak ada yang memuat ini. Berbagai spekulasi pun muncul. Tudingan kecurangan tertimpa kepada penyelenggara pemilu (KPU) dan pemerintah, karena ada unsur petahana presiden sebagai peserta pilpres, dalam posisi masih aktif (hanya cuti kampanye). Tak pelak berbagai tudingan pun berseliweran yang menyoal posisi petahana presiden yang masih bisa memainkan posisi konstitusinya sebagai presiden. Sulitlah membedakan, seorang Jokowi sebagai presiden ataukah sebagai calon presiden (capres). Yang jelas, kedua peran ini berhimpitan, dan jelas menguntungkannya.

Pepatah Jawa yang mengatakan “menang ora kondang, kalah ngisin-ngisini” (menang tidak membuat terkenal/ hebat, jika kalah bikin malu) tentu menjadi beban mental tersendiri bagi sang capres petahana yang orang Jawa dan tentu sadar benar dengan ujar-ujar Jawa ini. Tentu dia ingin menang, biar tidak malu. Toh menutup kemaluan eh rasa malu ini telah diajarkan ketika debat capres oleh KPU: debat disusun atas dasar supaya tidak ada capres yang dipermalukan di depan public (argument KPU).
Lain soal pada kubu penantang. Kubu ini tentu semangat 45 untuk menang, setidaknya biar tak malu juga jika kalah seperti pada pemilu 2014. Namun sejak debat capres, Prabowo tak mampu melancarkan jurus mematikan untuk menyerang lawan, justru malah sering mengatakan: “Pak Jokowi tidak salah” ketika mengkritik kebijakan pemerintah. Tampak kubu ini miskin data dan miskin analisis. Kata orang Jawa: “ndak niat perang”.
Pertarungan dua calon yang memiliki karakter unik ini sungguh menggemaskan. Petahana yang memiliki perlengkapan komplit karena masih bisa mendayagunakan sumberdaya yang melekat pada fungsi kepresidenannya melawan karakter calon yang tampak seperti tidak niat bertempur.

Usai pilpres, berhamburanlah aneka wacana tudingan kecurangan yang dialamatkan pada kubu petahana (pemerintah), yang berujung pada pembelahan pendapat public. Yakni pendapat public yang cenderung mempercayai hasil pilpres 2019 dan pendapat public yang cenderung tidak mempercayai hasil pilpres 2019. Masing-masing mengusung argument tersendiri.

Pretext ini juga berkontribusi pada kebingungan massal di level grassroot. Orang pun kemudian ramai-ramai mendadak kehilangan kepercayaan diri akan hasil pilpres 2019 mulai dari versi quick count (hitung cepat) hingga real count. Ditambah, jagad medsos memunculkan informasi bermacam-macam. Ada banyak versi hasil penghitungan suara pilpres 2019!

Kemudian anda pun mencari di mesin pencari, dengan kata kunci “hasil pilpres 2019 yang benar”. Ketemulah anda dengan tulisan ini.

Mengapa anda ingin tahu “hasil pilpres 2019 yang benar”? Mengapa pertanyaan seperti ini muncul? Pada frasa “hasil pilpres 2019 yang benar”, kata manakah yang menjadi titik focus? Kata “benar”? Yupz, benar. Mengapa orang mencari dan berharap pada “benar” yakni hasil pilpres yang “benar”?

Ini sangat menarik dan mengandung makna yang luas. Bukankah telah banyak lembaga survey terkenal dan bereputasi nasional yang telah membeberkan hasil quick count (hitung cepat) bahkan real count (hitung riil)? Bahkan, KPU RI juga menyuguhkan data real count?

Jika pikiran anda konsisten dengan kata kunci “hasil pilpres 2019 yang benar” yang anda cari, maka sajian quick count maupun real count manapun, tidak akan berarti apa-apa bagi anda. Mengapa? Pikiran anda seketika, dalam hitungan detik, akan menjawab: “ini bukan yang benar”, “ini tidak benar”.

Pikiran anda menolak sajian data tersebut. Mengapa anda menolak? Atau, mengapa pikiran anda dengan cepat menyimpulkan bahwa data tersebut “tidak benar”?

Oh ternyata…

Ada peristiwa pendahulu (pretext) yang tersaji di media massa bahwa sajian data dari berbagai lembaga survey tersebut, yang ditayangkan televisi maupun media online menunjukkan adanya perbedaan dari kedua pasangan calon.

Perbedaan ini kontan memantik perbedaan pendapat dan perdebatan tak berujung di media social. Pretext yang anda dapati bahwa media televisi pun tidak netral, memihak kepada salah satu pasangan calon, membuat anda makin galau, dan yakin bahwa hasil pilpres ini (yang tertayang di media) tidak bisa begitu saja diyakini kebenarannya. Di manakah kutemukan kebenaran?

Unggahan berbagai video yang menunjukkan penghitungan suara yang bermasalah di berbagai tempat menambah keyakinan spekulasi bahwa “sedang terjadi kekeliruan yang masif” pada proses penghitungan suara.

Maka, dalam pikiran semakin dalam tertanam “hasil ini tidak benar”, sehingga pikiran membimbing kita untuk “mencari hasil pilpres 2019 yang “benar”, yang tidak keliru.

Viralnya berbagai video yang menunjukkan pencoblosan surat suara oleh beberapa oknum terhadap salah satu pasangan calon dan dilakukan di luar prosedur, waktu dan tempat yang benar, menambah spekulasi bahwa “sedang terjadi kekeliruan dalam proses pemungutan suara”.

Ini juga memperdalam rasa tidak percaya public terhadap proses pemilu 2019, sehingga banyak orang, termasuk anda, pun terpaksa harus mencari “hasil pilpres 2019 yang benar”, yang tidak keliru.

Lantas, pikiran anda membimbing anda untuk mencari rujukan “hasil pilpres 2019 yang benar” pada sumber aslinya, yang paling berwenang, yakni Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI). Ketemu. Anda lega karena telah menemukan oase di padang tandus nan gersang. Eureka !!!

Belum lama kelegaan ini, terhidang lagi di media social secara viral, berbagai video tentang kekeliruan penghitungan suara yang terjadi di pihak KPU RI. Penghitungan suara versi SITUNG (Sistem Informasi Penghitungan Suara) mengalami kekeliruan secara konsisten pada penghitungannya yakni pada scanning (pemindaian) sertifikat C1 dan hasil encoding berupa angka perolehan suara masing-masing pasangan calon (paslon) yang tertera pada layar monitor. Dalam video viral itu tampak bahwa kekeliruan penghitungan terjadi secara konsisten dan kebetulan (?) kok terjadi trend pengurangan pada paslon 02 dan penambahan untuk paslon 01. Dan ini terjadi di server KPU RI! Sontak, public ramai! Dan anda pun makin galau kemilau…

Anda pun berpikir, lha jika di rumah yang paling berwenang (KPU RI) inipun terjadi kekeliruan, di manakah akan kita temukan kebenaran? Yang tidak keliru? Lantas, manakah “hasil pilpres 2019 yang benar”? Yang tidak keliru?

Semakin ke sini, pikiran anda makin terseret pada pusaran pemerkuatan dugaan bahwa “pilpres 2019” penuh kekeliruan dalam proses pemungutan suara dan penghitungan suara”. Dan karena “pilpres 2019” ini adalah himpunan bagian dari “rezim pemilu”, maka dapat diduga bahwa “pemilu 2019” penuh dengan kekeliruan.

Di saat-saat galau kemilau ini, muncul lagi berita bahwa KPU RI mengakui bahwa terjadi kesalahan penghitungan suara di beberapa tempat. Disusul lagi berita bahwa Bawaslu RI merekomendasikan penghitungan suara ulang dan pemungutan suara ulang di beberapa tempat.

Ini juga pretext yang turut melandasi text yang anda dapati, bahwa “pilpres 2019” tidak memberikan rasa percaya sepenuhnya”. Karena inilah maka anda mencari “hasil pilpres 2019 yang benar”. Karena anda seringkali (untuk tidak menggunakan kata “selalu”) mendapati “kekeliruan”, “ketidakbenaran”.

Tulisan saya ini, tidak menggunakan kata “kecurangan”, tetapi “kekeliruan”, untuk menyajikan informasi yang netral, tidak tendensius, dan tidak mempengaruhi pikiran anda. Karena, curang, kecurangan, harus dibuktikan secara hukum.

Faktanya kan sedang terjadi “kekeliruan”. Dan “kekeliruan”, tidak dapat dianggap benar. Maka, pemilu 2019 adalah pemilu yang sarat dengan kekeliruan. Pemilu 2019 adalah pemilu yang keliru. Atau, pilpres 2019 adalah pilpres yang keliru. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan.

Bahwa ‘kekeliruan’ ini ternyata misalnya disengaja, hasil kesengajaan, dan dilabeli “kecurangan”, harus dibuktikan. Setiap pihak, harus bersedia beracara di depan hukum.

Apakah pemilu yang keliru seperti ini digunakan sebagai basis penyelenggaraan Negara? Sebagai basis pemeliharaan demokrasi? Demokrasi keliru? Wah, jadi malu sama ‘Presiden Kelirumologi” Jaya Suprana hehe… 🙂

Ibarat membuat kue dari bahan baku yang keliru. Maka keliru pulalah kue atau apapun produk yang dibuat dari bahan baku yang keliru.

Kita telah mencatatkan diri dalam sejarah perjalanan bangsa ini, dan sejarah demokrasi bangsa-bangsa di dunia, dengan tinta hitam, demokrasi yang keliru. Kalau judul sinetron, “Demokrasi Yang Tertukar”.. hehe…

Tapi ndak ah.. Saya ndak ikut-ikutan begitu…

Fakta tentang kekeliruan dalam proses pemungutan dan penghitungan suara ini, tak bisa dibiarkan. Harus diadakan pembetulan atau koreksi atau revisi atau ralat, terhadap proses pemilu ini. Ini fakta tentang terjadinya kekeliruan. Belum bicara tentang “kecurangan”, jika memang dapat dibuktikan secara hukum, bahwa pemilu 2019 dilaksanakan dengan curang.

Beranikah?

Jadi ingat kata-kata Gus Dur, beliau pernah berkata bahwa “…bangsa ini penakut…”!

Jika ada yang berani mengatakan pilpres 2019 atau pemilu 2019 penuh kecurangan, atau dilaksanakan dengan curang, harus dibuktikan. Di mana pembuktiannya? Di lembaga peradilan, tentu saja.

Tidak mempercayai lembaga peradilan?

Ini semua, semua yang saya tulis di atas, apabila Anda mencari kebenaran hasil pilpres 2019, mencari “hasil pilpres 2019 yang benar” secara NETRAL. Artinya, anda benar-benar ingin tahu hasilnya, yang benar, yang asli, tanpa dipengaruhi oleh angan-angan dan harapan akan kemenangan 01 maupun 02.

Biarlah proses pemilu yang benar, yang tidak keliru, memunculkan hasilnya. Baik 01 maupun 02 yang menang, tidak ada urusan.

Lain lagi jika anda mencari “hasil pilpres 2019 yang benar” dengan terbebani oleh pikiran yang berisi harapan bahwa jagoan anda yang (harus) menang…

Jika ini yang anda lakukan…

Maka pikiran anda akan mencari data-data yang mendukung pikiran anda ini. Dan pikiran akan men-delete setiap data atau informasi yang bertentangan atau tidak sejalan dengan “misi” anda!

Anda telah melakukan filtering, screening terhadap data atau informasi yang anda cari dan kumpulkan.

Pikiran seperti inilah yang sedang melanda banyak orang di negeri ini! Mudah-mudahan tidak termasuk anda yang sedang membaca tulisan ini hehe…. 🙂

Jika pikiran seseorang terhuni oleh kepentingan partisan, yakni harapan akan jagoannya, maka tindakannya pun terbimbing oleh pikiran ini. Apakah itu status facebook, tweet, maupun postingan apapun di medsos bahkan bahan bercakap-cakap dengan teman, semua terbimbing oleh pikiran partisan ini. Termasuk usaha mencari “hasil pilpres 2019 yang benar” pun akan terbimbing oleh pikiran “jogoan saya harus unggul”. Nah!

Anehnya lagi…

Jika ada orang yang berpendapat atau berpemikiran bahwa sedang terjadi kekeliruan pemungutan dan penghitungan suara, apalagi berkata “telah terjadi kecurangan” dalam pemilu 2019 atau pilpres 2019, maka akan dicap sebagai pendukung 02! Nah… Inilah mal-pikir yang sedang melanda penghuni negeri ini… Sungguh, saya sangat prihatin…

Melakukan pembiaran pada isu publik, sama dengan membiarkan rakyat tersesat. Maka harus ada kejelasan: curang atau tidak.

Tulisan ini bicara tentang cara berpikir netral, menyikapi sesuatu peristiwa atau fenomena secara netral, tanpa prasangka. Kita mencoba belajar netral tanpa prasangka sejak dari pikiran (sebelum berkata dan bertindak).

Berpikir netral tanpa prasangka dalam arus liar yang penuh narasi sesat dan menyesatkan memang tidak mudah dan penuh tantangan dan risiko. Sejak awal sebelum pemilu 2019, kita telah disuguhi narasi yang mendominasi pikiran kita bahwa seolah-olah rakyat terbagi menjadi dua golongan. Yang ini saya lanjutkan di tulisan tersendiri, agar tak mengacaukan tulisan ini.

Kembali ke “hasil pilpres 2019 yang benar”. Jika pikiran masih terkotak dan tersudutkan ke misi partisan, maka mencari “hasil pilpres 2019 yang benar” tak akan membawa hasil. Karena, di manapun tak akan pernah dijumpai “hasil pilpres 2019 yang benar”, bahkan di server dan meja tabulasi nasional manual KPU RI sekalipun!

Karena di dapur KPU RI pun tak dijumpai “hasil pilpres 2019 yang benar”, yang sedang dicari itu. Kecuali, jika anda cukup puas dengan sajian itu. Jika pikiran partisan ini masih terpelihara, maka jika anda kebetulan pro-01, maka anda akan puas dan bisa tersenyum dengan sajian data yang mendukung keberpihakan anda. Sebaliknya, jika anda kebetulan pro-02, maka anda akan kecewa dengan sajian data yang tak mendukung keberpihakan anda ini.

Lantas, untuk apa mencari “hasil pilpres 2019 yang benar”? Apakah tak sebaiknya menunggu hasil hitung tabulasi manual KPU RI saja? Toh, yang digunakan sebagai acuan penetapan pasangan calon presiden/ wakil presiden terpilih adalah tabulasi manual KPU RI berdasarkan sertifikat hasil penghitungan suara C1, yang lebih popular disebut ‘form C1”. Bukan real count versi SITUNG KPU RI yang ada di server KPU RI.

Jika anda kebetulan bukanlah orang yang pro-01 maupun pro-02, atau, anda sanggup mengabaikan sejenak keberpihakan anda dan menjadi netral untuk mencari data, maka “hasil pilpres 2019 yang benar”, yang “tidak keliru”, memerlukan verifikasi terlebih dahulu. Yakni, memverifikasi atau memastikan bahwa hasil penghitungan tersebut adalah bersumber dari data yang benar-benar asli dan benar serta dari proses yang dapat dipercaya. Inilah “hasil pilpres 2019 yang benar dan dapat dipercaya”.

Mungkin ada yang berpikir, bagaimana bisa dipercaya sepenuhnya, wong banyak terjadi form C1 beredar di tempat-tempat tidak semestinya, juga tersimpan di gudang milik KPU dan tidak terdistribusikan.

Ini juga perlu dibuktikan. Untuk membangun kepastian dan ketenteraman publik.

Akhirul kalam, eh, akhirul nulis,  semua kesimpang siuran ini perlu diterang-benderangkan, demi menjamin kepastian hukum bahwa pemilu 2019 ini jurdil (jujur dan adil).

Tulisan ini saya tutup dengan angket, mohon dijawab sebagai feed-back atas tulisan ini ya… Terima kasih.

Menurut anda, apakah pilpres 2019 ini hasilnya dapat dipercaya?

Pilihan jawaban:

Ya, dapat dipercaya

Alasan: (tulis di komentar)

 

Tidak dapat dipercaya.

Alasan: (tulis di komentar)

Terima kasih.

 

Dao zhe. Ling min yu shang tong yi ye. Gu ke yi yu zhi si, ke yi yu zhi sheng, er bu wei wei (Sun Zi)

“Moral force  yang menyatukan rakyat dengan penguasa, membawa kesepakatan yang selaras untuk common goal. Maka, rakyat siap hidup dan mati bagi sang penguasa tanpa rasa takut!”

Bisa?

Keterangan:
Gambar ilustrasi diambil dari portal TribunNews.com
Sebagian teks diambil dari situs milik saya, www.MiracleWayStore.com

Leave a Reply (Tulis Balasan atau Komentar)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s