Statistika Medsos: Menghitung Tweets Berikut Sentimen Publik

Jumlah lalulintas percakapan ‘hashtag’, atau ‘tanda pagar’ (tagar) di medsos menandakan perhatian dan keminatan serta sentimen publik terhadap suatu isu publik. Medsos yang menurut saya “paling real-time” yang dapat “mewakili” gerak-gerik opini publik adalah twitter, karena twitter memungkinkan para penggunanya untuk menuliskan pikirannya, uneg-uneg-nya, kegalauannya dsb secara langsung dan mudah serta dapat direspons pengguna lainnya dengan mudah pula dan cepat.

Dapat dikatakan, twitter adalah kumpulan kicauan publik. Cocoklah dengan logo twitter, burung kecil yang suka berkicau. Kicauan yang kadang terasa merdu dan menghibur, kadang menjengkelkan, mengganggu bobok ciang babe kite… 🙂

Nah, kali ini saya ingin mengulik kicauan publik di dunia manuk emprit eh twitter ya.. Seputar isu terkait apa yang menjadi kicauan publik paling hot. Tentang Mahkamah Konstitusi (MK). Ini sebenarnya isu agak kemarin sih, baru sekarang saya unggah di sini. Ntar, saya ulik kicauan publik yang hot lainnya.

Mahkamah Konstitusi, MK, belakangan ini makin dikenal dan menjadi bahan pembicaraan masyarakat luas. Mulai pembicaraan ringan hingga serius, baik yang mengandung sentimen netral, positif maupun negatif.

Mereka yang sehari-harinya jauh dari urusan hingar-bingar perpolitikan negeri ini pun, hari-hari ini kian mengenal apa itu ‘MK’. Berkat pilpres 2019 hehe… 🙂

Kiranya kita perlu berterimakasih kepada mereka yang membuat MK makin dikenal masyarakat seperti ini. Ya, pemilu presiden atau pilpres 2019, yang mempertemukan kembali Jokowi sebagai calon petahana dengan penantangnya pada pilpres 2014 lalu, Prabowo Subianto, merupakan pilpres yang cukup menguras energi.

Termasuk energi untuk nyinyir di media sosial.. hehe… 🙂

Aneka harapan pun berhamburan terhadap lembaga yang lahir sebagai penguat demokrasi pada sekitar pemilu multipartai kedua di Indonesia pasca Orde Baru: 2004 itu.

Popularitas Tagar Percakapan

Belakangan ini, percakapan di media sosial, utamanya twitter, yang terkait dengan Mahkamah Konstitusi (MK), menunjukkan ketertarikan publik pada lembaga ini, walaupun ketertarikan publik lebih karena tersedot oleh “pesona” pilpres yang sedang disidangkan kasusnya oleh MK.

Twitter, sebuah media sosial ber-platform micro blogging, memang mudah sekali untuk mencuatkan cuitan sebagai lontaran pesan kepada publik. Dan mudah pula mendapatkan respons publik.

Dapat dikatakan, ‘cuitan’ berikut ‘balasan’ dan ‘sebutan’pada percakapan di medsos twitter merupakan representasi percakapan publik terkait sesuatu hal. Tentu saja, tergantung dari berapa banyak interaksi tweet (cuitan), reply (balasan), mention (sebutan, menyebut atau menandai orang/ akun lain), retweet (cuitan ulang) yang terjadi di medsos twitter tersebut.

Pada percakapan di twitter, tercatat sebanyak antara dua ribuan hingga 10 ribuan interaksi pada 5 hashtag tentang MK pada rentang waktu antara 24 Juni hingga 1 Juli 2019.

#TerimaKasihMK sebanyak 10.023 cuitan.

#KeputusanMKHarusAdil sebanyak 6.363 cuitan.

#PutusanMKYangTerbaik sebanyak 1.653 cuitan.

#RakyatPercayaMK sebanyak 5.011 cuitan.

#MenjagaDamaiPutusanMK sebanyak 2.216 cuitan.

 

statistika medsos
Gambar 1a: Perbandingan 5 Tagar MK (Sumber: Drone Emprit Academy, DEA Net, 1 Juli 2019).
statistika medsos
Gambar 1b: Perbandingan 5 Tagar MK (Sumber: Drone Emprit Academy, DEA Net, 1 Juli 2019).

Periksa Gambar 1.

Perbandingan Popularitas 5 Tagar tentang Mahkamah Konstitusi

Gambar 1: Perbandingan Popularitas 5 Tagar Tentang Mahkamah Konstitusi

Tanda hashtag atau ‘tanda pagar’ atau disingkat ‘tagar’, akhirnya menjadi semacam tiang penanda sesuatu pesan yang terjadi di antara para pihak yang berpartisipasi pada sesuatu topik pembicaraan di ruang publik.

Jumlah interaksi (tweet, mention, reply, retweet) dalam setiap tagar menjadi penting serta menarik untuk diperhatikan, guna mengukur seberapa banyak suatu topik yang “diwakili” oleh tagar tertentu diikuti dan diminati oleh para pengguna twitter.

Berikut adalah popularitas tagar yang terkait dengan ‘Mahkamah Konstitusi (MK). Selama dan setelah usai persidangan kasus sengketa pilpres 2019, tagar tentang MK (lihat juga Gambar 1):

Gambar 2: Jumlah Mention Tagar (Sumber Data: Drone Emprit Academy, DEA Net, 1 Juli 2019).

Interaksi publik berupa mention twitter sejak 24 Juni hingga 1 Juli 2019, sebagaimana Gambar 2.

Jumlah Mention Tagar tentang Mahkamah Konstitusi

Gambar 2: Jumlah Mention Tagar tentang Mahkamah Konstitusi

Diagram pada Gambar 3 berikut menunjukkan volume interaksi pengguna twitter pada masing-masing tagar:

#TerimaKasihMK sebesar 40 persen.

#KeputusanMKHarusAdil sebesar 25 persen.

#PutusanMKYangTerbaik sebesar 7%.

#RakyatPercayaMK sebesar 20%.

#MenjagaDamaiPutusanMK sebesar 9%.

Popularitas Tagar tentang Mahkamah Konstitusi

Angka-angka grafik di atas menunjukkan betapa publik menaruh perhatian kepada pemilu presiden 2019 dan juga kepada Mahkamah Konstitusi selaku lembaga peradilan untuk sengketa yang berkaitan dengan konstitusi.

Sentimen Publik

Pada keseluruhan mention (sebutan) pada percakapan terkait tagar MK ini, terdapat sentimen netral, positif dan negatif. Periksa Gambar 4.

statistika medsos
Gambar 4a: Sentiment Publik (Sumber Data: Drone Emprit Academy, DEA Net, 1 Juli 2019).

Sentimen netral tercatat sebanyak 1.585 mention.

Sentimen positif sebanyak 160 mention.

Sentimen negatif sebanyak 468 mention.

Sentimen Netral, Positif dan Negatif

Gambar 4: Sentimen Netral, Positif dan Negatif pada Tagar tentang Mahkamah Konstitusi.

statistika medsos

Gambar 4b: Sentimen Publik

 

Kategorisasi 3 sentimen (netral, positif, negatif) dianalisis dari kata-kata yang digunakan pengguna twitter dalam mengomentari proses persidangan MK. Lebih jelasnya saya tulis di artikel tersendiri saja.

Angka-angka di atas menunjukkan bahwa publik banyak berharap pada MK, pada putusan MK, dan karenanyalah MK ke depan agar lebih mampu meneguhkan perannya pada penegakan konstitusi secara murni dan konsekuen serta konsisten.

(ada yang bisa beri komen terhadap tiga kata tercetak miring di atas ini? Itu adalah kata-kata khas yang sangat dikenal oleh generasi seusia saya hehe… 🙂 intermezzo

Tentu saja, angka-angka yang tersaji di atas, tidak serta-merta menjelaskan kinerja MK maupun persepsi publik terhadap kinerja MK. Namun, cukuplah untuk memantau gerak-gerik pikiran publik pada suatu isu publik semisal Mahkamah Konstitusi (MK).

Epilog

Pantauan atau monitoring sosial terhadap pergerakan pikiran publik, -yang terepresentasi dalam interaksi di twitter-, terkait topik-topik penting, hangat dan sentral (sosial, politik, pendidikan, dsb), insya Allah akan terus saya lakukan dan saya bagikan di blog ini.

Pada tulisan ini, saya unjukkan secara sederhana sebagai “perkenalan” saja, dengan mencolek salah satu sisi analisis big data fasilitasi penuh Drone Emprit Academy (DEA) Net, yang menggunakan gudang data twitter. Masih banyak kegunaan lain, dengan basis data yang sama yakni twitter ini.

Mengapa twitter? Karena aktivitas percakapan twitter terjadi secara real-time setiap hari, setiap saat. Maka, memantau twitter, sama halnya memantau orang-orang yang setiap saat “bercuitan”, memantau pikiran orang banyak, secara real-time !

Saya berterima kasih kepada DEA Net yang menyediakan data hasil analisis big data secara gratis bagi peneliti seperti saya. Sebagai lustrasi, saya pernah mengontak Twitter Developer di Amerika Serikat, untuk mendapatkan data percakapan publik yang terekam di platform twitter, untuk keperluan suatu riset akademik; mereka mematok harga ‘berangka ribu US dollar’ untuk satu jenis “kontainer” big data per periode tertentu. Itupun belum berupa olahan, dan saya harus mengolahnya sendiri, sedangkan software pengolah big data masih terbilang mahal di tanah air, untuk ukuran saya hehe…

“Sekaligus, jelas ya… mengapa platform semacam twitter, facebook, dkk itu diberikan gratisan? hehe… Ya. Gratis untuk semua orang, berharga mahal untuk sebagian kecil orang… hehe…”. Artinya, platform facebook, twitter disediakan gratis untuk semua orang di dunia, untuk “memerangkap” atau “merekam” data-data yang memuat profil, data diri, aktivitas sosial, dsb. Dan data-data tersebut terkumpul dalam “bakul besar” sebagai data besar (big data). Dan, data ini, bisa menjadi data yang berharga mahal bagi sebagian kecil orang.

Okee, sampai ketemu pada tulisan mendatang ya… Mungkin tema politik, sosial, pendidikan, ekonomi-bisnis, atau yang lain, yang lagi hit dan hot hehe… 🙂

 

Wawan E. Kuswandoro

Dosen Universitas Brawijaya, Peminat Masalah Politik Sehari-hari (Everyday’s Politics) & Politik Digital

 


Leave a Reply (Tulis Balasan atau Komentar)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s