Peran Politik Milenial

Mini Polling Peran Politik Milenial

Sebelum materi, polling dulu ya.. Jika anda merasa sebagai Generasi Milenial, mohon mengisi polling singkat ini. Polling ini dimaksudkan untuk mengetahui peran politik milenial atau partisipasi politik kaum milenial dalam kehidupan demokrasi di Indonesia, meliputi persepsi politik, peran politik, dan harapan terhadap pembangunan politik negeri ini, dan secara khusus, untuk lingkungan politik terdekat anda. Jawaban anda sangat bermanfaat bagi pembangunan politik kontemporer di masa depan. Terima kasih.

Ada 10 pertanyaan sederhana:

  1. Berapakah Usia anda sekarang?

2. Apa makna “politik” bagi anda?

3. Apa makna “pemilu” bagi anda?

4. Bentuk partisipasi politik yang paling anda sukai (aku banget) – Prioritas 1

5. Bentuk partisipasi politik yang paling anda sukai (aku banget) – Prioritas 2

6. Bentuk partisipasi politik yang paling anda sukai (aku banget) – Prioritas 3

7. Pelajar/ Siswa SMA/ SMK/ MA ikut berdemonstrasi turun jalan dalam merespons politik nasional; menurut anda?

8. Untuk daerah anda (lokal), isu politik yang paling urgen adalah?

9. Apakah anda berminat bergabung dengan partai politik?

10. Bagaimana gambaran ideal partai politik menurut anda?

Sudikah anda menuliskan pendapat anda di kolom komentar? Terima kasih sangat jika anda sudi membantu analisis saya tentang bagaimana seharusnya partai politik yang merupakan pilar demokrasi memerankan dirinya agar partai politik menjadi menarik dan sexy di mata generasi milenial termasuk Gen Z dan Gen Z pun bakal berkenan dengan partai politik. Syukur bisa jatuh cinta. Terima kasih.

Terima kasih telah mengisi polling di atas…

Sekarang, materi ya…

Partisipasi Politik Generasi Milenial

peran politik milenialPeran generasi milenial dalam politik dan partisipasi politik generasi milenial dalam kehidupan demokrasi di Indonesia sangat penting. Jumlah pemilih milenial mencapai 70 – 80 juta dari 193 juta pemilih pemilu 2019 atau sekitar 40% (data KPU). Jumlah yang signifikan dalam mempengaruhi dunia politik dan wajah politik Indonesia di masa datang!

Namun, masih terdapat banyak pertanyaan bernada keraguan terkait peran dan partisipasi politik generasi milenial, ini. Pada tulisan ini saya tidak terlalu memberikan pembeda secara tegas terhadap istilah “generasi milenial” dan “Generasi Z” atau “Gen Z” secara definitif batas usia. Saya ingin menyebut “generasi milenial” dengan batasan usia tertentu tidak saya bedakan dengan “Generasi Z” atau “Gen Z” ini karena dalam jangka waktu ke depan, apa yang disebut “Gen Z” sekarang, di masa depan setara dengan “generasi milenial” sekarang. Ini dalam konteks pendidikan politik. Di sini saya menyebut “generasi milenial” saya setarakan dengan “Generasi Z” atau “Gen Z”.

Dari data jumlah pemilih milenial di atas, maka patut kita bertanya tipis-tipis… (sambil mikir dikit, Gen Z ini masih peduli urusan politik gak sih..) 🙂

Ke manakah orientasi politik dan arah pemilih kaum milenial dengan jumlah 40% pemilih Indonesia?

Bagaimanakah karakter generasi milenial dan bagaimana menumbuhkan gairah politik generasi milenial, yang sering diidentikkan dengan generasi digital ini? Dan banyak pertanyaan lain…

Gen Z, generasi yang sempat di-stigma sebagai apolitik, tidak berminat pada isu-isu politik, tidak percaya politisi dan lembaga politik – pemerintahan serta alergi dengan kata ‘politik’.

Jika berhenti di sini, patutlah kita bersedih hati dan khawatir akan masa depan bangsa dan negara ini, pembangunan politik akan menemui jalan suram di masa depan, jika Gen Z benar-benar lari dari kenyataan eh, lari dari dunia politik!

Jika Gen Z tak tertarik politik, maka ancaman lost (political) generation in the future sungguh bakal terjadi. Alarm tanda bahaya nasional!

Namun kemudian anggapan itu terkoyak dan kegelisahan itu berubah tatkala para Hokage eh para Gen Z “turun gunung” melibatkan diri secara langsung dalam aksi demonstrasi turun jalan memprotes RUU-KPK, RUU-KUHP, kebakaran hutan dan lahan, rusuh Papua, dll.

Yes! Gen Z ternyata tidak hibernasi politik!

Tetapi sejurus kemudian muncul beberapa skeptik…

Benarkah isu-isu politik ini yang membawa generasi milenial, Gen Z turun jalan?

Atau adakah motivasi rasional yang lain (rasional Gen Z), motivasi ideologis Gen Z ataupun motivasi sosial gerakan politik Gen Z?

Apakah ini merupakan kebangkitan nasional Gen Z?

Apapun jawabannya, kaum milenial, Gen Z, telah menunjukkan kepeduliannya terhadap isu politik, terlepas dari seperti apa tingkat pemahamannya terhadap isu politik secara spesifik.

Tentu, realitas ini patut disyukuri!

Gen Z, yang semula dianggap apolitik, ternyata memiliki kesadaran politik yang dapat diandalkan.

Kebangkitan kesadaran politik Gen Z ini merupakan sebuah surplus demokrasi yang harus kita rawat!

partisipasi politik generasi milenialKisah peran generasi milenial dalam politik atau peran politik generasi milenial, Gen Z kita mulai dari sini, dari realitas “baru” (baru disadari dan diketahui publik) kesadaran politik yang ditunjukkan Gen Z.

Memang, publik Indonesia terperangah, tentu dengan beragam respons, ketika aksi demontrasi besar-besaran dan beruntun. Ini aksi terbesar kedua setelah aksi ’98.

Harapan terhadap Gen Z bersinar lagi… Menumbuhkan harapan baru akan peran generasi milenial dalam politik dengan lebih baik lagi.

Tulisan ini memang bertendensi menaruh harapan baru kendali politik negeri ini ke depan, kepada Gen Z. Dengan mengenal dan mengenali lebih dekat karakter Gen Z, dengan terlebih dahulu mengulik aktivitas politik Gen Z belakangan ini, baik aktivitas langsung lapangan maupun aktivitas politik secara daring (online).

Ya, Gen Z adalah generasi online, generasi digital! Generasi cyber-sosial, cyber-politik!

Karenanya, setelah mengulik aktivitas politik lapangan, tulisan ini juga mengungkap aktivitas politik Gen Z yang terekam media sosial (medsos). Pikiran politik dan aksi politik Gen Z banyak tertuang dan tersalur melalui medsos. Medsos sebagai anak kandung zaman milenial telah menjadi alat vital eh, arena politik yang vital.

Dengan mengungkap aktivitas politik Gen Z, baik offline maupun online, tulisan ini berharap munculnya ‘aksi-lanjutan’ untuk ‘merawat literasi politik Gen Z’ dalam agenda pembangunan politik yang updated, kekinian dan berkelanjutan.

Dari sinilah pemimpin masa depan kita tumbuhkan melalui proses politik dan demokrasi yang sehat, baik dan benar!

Agenda pembangunan politik kekinian, tentu saja akan berisi pikiran-pikiran politik kontemporer, post-positivis, yang terdapat dalam karakter zaman milenial. Sebuah karakter zaman yang memuat anasir post-strukturalis, post-truth, penuh diskursus politik yang bergerak dalam ruang publik secara tak beraturan, dan cepat, dengan dukungan media sosial berbasis internet. Bagian ini akan saya tulis tersendiri.

Yuk kita lanjut ngomongin aktivitas politik Gen Z, baik yang offline maupun online.

Generasi milenial, atau generasi Z, Gen Z, sebagaimana dikutip oleh NarasiTV dari Tirto.id, disebutkan memiliki ciri-ciri:

Berpikiran terbuka

Hemat

Menyukai kampanye yang kekinian

Menghendaki perubahan sosial

Sanggup berkompromi

Asyik dengan teknologi

 

Nah, ciri yang disebut terakhir yang sering disalah-artikan dengan disebutnya generasi Z, Gen Z sebagai “generasi gadget“, berdunia kotak persegi 8 inchi, dan tidak peduli orang lain. Berdasarkan hasil survei dari Asosiasi Penyedia Layanan Internet (2017), sebagaimana dikutip Geotimes.co.id, penetrasi internet didominasi oleh generasi milenial hingga lebih dari 75%.

Artinya, mereka bertumbuhkembang bersama teknologi informasi dan media sosial berbasis internet. Tentu, gaya berpolitiknya akan terpengaruh oleh habitus berteknologi informasi itu.

partisipasi politik generasi milenialNah, apakah dengan ciri sedemikian akan membawa warna lain, yang baru, pada gaya partisipasi politik generasi milenial, Gen Z?

Dan bagaimana partai politik menangkap gejala dan perubahan sosial ini sehingga generasi milenial, Gen Z ini tertarik pada gerakan partai politik dan lebih lanjut sudi bergabung dengan partai politik?

Termasuk juga, bagaimana penyelenggara pemilu melakukan pendekatan dan pendidikan politik yang mengena dan klik pada karakter Gen Z?

Baiklah, pembahasan ini ada kaitannya dengan polling di atas. Sudah ngisi kan… Silakan klik “View Results” pada polling tersebut juga ya… Setelah polling anda isi, dan anda telah melihat hasil polling pada “View Results”, maka saya lanjutkan pada pembahasan atas 2 hal, yakni:

Apakah yang mendorong generasi milenial untuk ikut gerakan aksi politik sampai turun jalan?

Bagaimana aktivitas politik generasi milenial melalui dan yang terekam media sosial?

Jawaban atas 2 pertanyaan ini saya harapkan akan dapat kita tracking untuk lebih memahami siapa dan bagaimana generasi milenial, Gen Z itu.

Karenanya, perangkat demokrasi dan demokratisasi, meliputi institusi dan aktor dan regulasi, dapat menjangkau dunia Gen Z ini: terutama partai politik dan penyelenggara pemilu.

Misalnya dalam bentuk:

Agenda pendidikan politik yang kekinian.

Rumah Pintar Pemilu yang ramah Gen Z.

Agenda partai politik yang khas milenial, dsb.

Apa itu? Ya jangan tanya penulisnya ya.. Saya kan Gen X … wkwk… 🙂

Makanya.. Silakan isi mini polling di atas ya gaess…. Hanya kalian para Gen Z yang bisa ngisi lhoh….

 

Partisipasi Politik Generasi Milenial

peran politik milenialPada bagian ini saya ingin membagikan partisipasi politik generasi milenial yang sering disebut juga dengan generasi Z, Gen Z, generasi teknologi informasi, generasi cyber-society, generasi digital.

Partisipasi politik generasi milenial pada bagian ini mengungkap partisipasi politik berupa respons generasi milenial terhadap kebijakan pemerintah pusat, berupa protes unjuk aksi turun jalan. Tentunya, kelak, akan saya tulis partisipasi politik generasi milenial dalam wujud dan rupa yang lain. Tergantung anak milenialnya mau ngapain.. hehe… Saya kan ngerekam doank hehe…

Bagian ini terbagi dalam 2 bahasan:

Apakah yang mendorong generasi milenial untuk ikut gerakan aksi politik sampai turun jalan?

Bagaimana aktivitas politik generasi milenial yang terekam media sosial?

Kita bahas satu per satu ya…

Apakah yang mendorong generasi milenial untuk ikut gerakan aksi politik sampai turun jalan?

Sumber: Tirto.id

Aksi demontrasi turun jalan merupakan aksi serius, dilandasi oleh beberapa pertimbangan dan motivasi, yakni motivasi rasional, ideologis maupun motivasi sosial dari gerakan politik yang dilakukan oleh generasi milenial tersebut.

Mereka memiliki alasan personal dan publik dalam partisipasi politiknya.

Saya contohkan aktivitas politik kaum milenial dalam memprotes revisi UU KPK dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dengan berdemontrasi di gedung DPR RI.

Aksi yang mengusung tagline #ReformasiDikorupsi itu berlangsung pada tanggal 24 September 2019.

Hasil survey yang dilakukan oleh Scholastika Gerintya dengan melibatkan 496 responden peserta aksi, yang kesemuanya adalah generasi milenial, didapat hasil sebagai berikut (Tirto.id):

Sumber: Tirto.id

Isu yang diusung oleh peserta aksi adalah:

Tuntutan revisi RUU KUHP (74,42%);

Revisi UU KPK (64,96 %);

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (43,48 %);

Isu kekerasan militer dan pelanggaran HAM di Papua (22,25%);

Tuntutan agar pemerintah segera menyelesaikan kebakaran hutan dan lahan di Riau (18,41%);

Menolak dwifungsi militer (2,05 %);

Menolak “dwifungsi” Polri (2,05 persen);

Kecewa dengan kinerja DPR (3,84 %).

Mayoritas responden yang berdemontrasi adalah untuk memperjuangkan hak dirinya sendiri dan orang lain (27,62 %); peduli dan mengaku terdorong hati nurani (20,2 %); mengaku ingin menyuarakan aspirasi sebab merasa tak didengar oleh para dewan (19,95 %).

peran politik milenial
Sumber: Tirto.id

Survey tersebut juga menemukan jawaban-jawaban responden peserta aksi, yang menunjukkan bahwa keterlibatan mereka dalam aksi demontrasi ini adalah terdorong oleh:

Ingin memperjuangkan hak.

Kepedulian dan dorongan hati nurani.

Ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah.

Ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah dan memperjuangkan hak.

“Sudah saatnya bergerak”.

Kutipan jawaban responden yang teragregasi dalam 5 kategori di atas menunjukkan kesadaran pemikiran generasi milenial terhadap isu-isu publik. Mereka ternyata bukanlah generasi apatis dan apolitik.

Generasi Milenial,  Gen Z, adalah generasi yang peduli urusan publik, urusan umat, urusan bangsa!

Bukan wujud dan cara partisipasi politiknya ataupun cara protesnya yang kita nilai, tetapi bahwa “mereka cepat tanggap”, “mau merespons”, “tidak cuek” pada isu-isu publik! Ini sangat positif. Tanda bahwa kesadaran politik, kesadaran publik masih belum mati pada generasi milenial yang kerap digelari “generasi gadget” ini.

Terbukanya ruang kesadaran politik Gen Z ini adalah berita gembira. Inilah surplus demokrasi, yang memerlukan perawatan. Bukan hujatan, bukan pula kekhawatiran.

Surplus demokrasi ini sangat perlu dirawat untuk menumbuhkembangkan modalitas politik-positif ke arah yang lebih produktif dan bermanfaat bagi perbaikan bangsa dan negara ini ke depan!

Adakah agenda yang kompatibel Gen Z yang dapat membuka jalan ke arah pembangunan politik ke depan? Kita perlu diskusikan suatu saat nanti ya gaess….

Btw…

Bagaimana aktivitas politik generasi milenial, Gen Z, yang terekam media sosial?

Tak dapat diingkari, era milenial, adalah era teknologi informasi, era cyber-sosial dan cyber-politik. Dan generasi milenial, generasi Z (Gen Z), adalah anak zaman cyber-cyber-an itu.

Media sosial, sebagai anak kandung industri 4.0 di era milenial, menjadi sarana sangat penting dalam pergaulan sosial dan pergaulan politik abad milenial ini.

Aktivitas medsos tak ayal menjadi elemen penting dalam bahasan politik kontemporer, politik digital, cyber-politics.

Karena di dalamnya terdapat aktivitas politik yang melibatkan Gen Z.

Sesuai dengan fasilitas zaman dan karakter Gen Z, keberadaan medsos pun tak lepas dari dunia industri 4.0 dalam politik praktis.

Medsos adalah wahana gerakan sosial kontemporer. Ia merupakan hulu ledak dengan peluru-peluru wacana publik yang diberondongkan oleh pengguna medsos untuk tujuan (politik) tertentu.

Nah…

Kita tengok bagaimana medsos merekam aktivitas politik Gen Z. Inilah jejak-digital Gen Z!

Sumber: Drone Emprit Academy (DEA) Net, 4 Oktober 2019

Ini tentang aktivitas kaum milenial Gen Z yang terekam medsos, juga mereka yang di luar Gen Z ngerumpiin Gen Z di medsos!

Yuk kita ulik jejak digital Gen Z.

Untuk ini saya mengunakan analisis big data dan analisis medsos yang difasilitasi penuh oleh Drone Emprit Academy (DEA) Net, dengan memilih satu medsos sebagai “kontainer” yang memuat percakapan, kalimat, ujaran, dan jejak digital publik secara real-time, yakni twitter.

Karena di twitter, platform micro-blogging, percakapan terjadi secara langsung antar pengguna twitter, real-time, cepat dan melibatkan banyak pengguna serta link platform medsos lain.

Dengan memantau twitter, kita layaknya memantau gerakan pikiran publik. Link-link URL website maupun platform medsos lain semisal Facebook, Instagram dan YouTube yang terhubung ke twitter juga tak lepas dari pemantauan ini.

Aktivitas percakapan publik di twitter teragregasi dalam hashtag (tanda pagar, tagar) yang memiliki makna “gerakan sosial dan politik”.

Tagar-tagar ini menunjukkan kumpulan pikiran, sehingga jumlah tagar dan jumlah percakapan twitter dalam setiap tagar adalah sekumpulan opini publik, dan tak jarang juga merupakan sebuah “instruksi gerakan”.

Sumber: Drone Emprit Academy (DEA) Net, 4 Oktober 2019

Ada sejumlah tagar yang dikategorikan manifestasi aktivitas dan partisipasi politik generasi milenial, generasi Z, Gen Z.

Di antaranya adalah:

#ReformasiDikorupsi

#PartisipasiPolitikMilenial

#MahasiswaBergerak

#MahasiswaBersatu

#STMMahasiswaBersatu

#MahasiswaPelajarAnarkis

#GejayanMemanggil

#HidupMahasiswa

#KetuaBEMUGM

#SurabayaMenggugat

#BebaskanAnandaBadudu

#BebaskanDandhy

Tagar-tagar tersebut berisi sejumlah tweets (cuitan, kicauan) para pengguna twitter, maupun mention, reply, dan retweet. Jumlah cuitan menunjukkan jumlah pengguna yang terlibat dalam isu yang direpresentasi oleh suatu tagar tertentu.

Tidak hanya jumlah cuitan, analisis medsos yang merupakan bagian dari analisis big data ini juga menganalisis sentimen publik pengguna twitter terkait isu tertentu yang direpresentasi oleh tagar tertentu.

Kita tengok dulu tagar #ReformasiDikorupsi.

analisis medsos
Akun-akun influencer (pemberi pengaruh) yang beroperasi melalui pada twitter
analisis medsos
Mention dari hari ke hari, sejak 4 September – 4 Oktober 2019. Trafik tertinggi terjadi pada 1 – 2 Oktober 2019.
analisis medsos
Pergerakan percakapan di 3 medsos: Website, Twitter, YouTube pada 4 September – 4 Oktober 2019.

Sekarang, yuk kita bahas 11 tagar lainnya ya… Eh, ada tambahan 7 tagar sih, jadi 18 tagar ya..

Angka di sebelah kanan itu adalah jumlah tweets untuk masing-masing tagar.

Tweets terbanyak adalah untuk tagar #STMMahasiswaBersatu yakni 59.973 tweets.

Mengapa ya kira-kira?

Mengapa tagar ini paling populer?

Mengapa orang suka berkerumun di tagar ini?

Adakah sinyal harapan?

Kita lihat trend tagar-tagar berikut ini.

Lihat polanya. Trend menurun pada semua tagar.

Memiliki pola yang sama.
Trend interaksi publik di Twitter berupa mention dan retweet pada periode 4 September – 4 Oktober 2019 (Data DEA Net, 2019).

 

Analisis medsos ini juga memperlihatkan sentimen publik yang muncul pada tagar-tagar tersebut.

Ada 3 sentimen yakni: positif, negatif, netral.

Sentimen positif maksudnya adalah bahwa tagar itu bermuatan tweets positif yang biasanya merupakan dukungan, setuju, sejalan yang diberikan oleh pengguna twitter.

Sentimen negatif adalah penolakan, atau ketidaksetujuan para pengguna twitter.

Sedangkan sentimen netral adalah tidak terdeteksi adanya kalimat dukungan maupun penolakan. Alias datar-datar saja.

Yuk kita lihat ya…

analisis medsos analisis big data politik digital
Sentimen publik dalam jejak digital Twitter pada 4 September – 4 Oktober 2019 (Data DEA Net, 2019)

analisis medsos analisis big data politik digital
Trend Sentiments: Sentimen ‘negatif’ tertinggi, diikuti ‘positif’ dan ‘netral’ (Data DEA Net, 2019).

Terakhir, adalah Tagar #PartisipasiPolitikMilenial

Di grafik ini dapat kita lihat dan baca, tagar mana yang paling populer atau paling banyak dihuni cuitan.

#PartisipasiPolitikMilenial sebagai tagar tidak begitu populer, tidak seperti tagar #MahasiswaBergerak dll.

Namun kata kunci “partisipasi politik milenial” telah muncul sebagai sebuah penanda baru bagi gerakan dan partisipasi politik Gen Z yang  terepresentasikan oleh tagar-tagar sebagaimana dalam grafik.

Dari statistika twitter tampak bahwa tagar #PartisipasiPolitikMilenial banyak digunakan oleh akun @KPU_ID.

 

Kesimpulan

Generasi milenial, Gen Z adalah generasi yang peduli politik.

Partisipasi politik generasi milenial, Gen Z dimotivasi oleh perjuangan hak, tumbuhnya kepedulian kepada orang lain dan dorongan mengontrol institusi negara.

Keterlibatan Gen Z pada aktivitas politik jalanan adalah sebuah surplus demokrasi.

Trend demokrasi-positif ini membuka peluang ke arah partisipasi politik yang lebih konkret misalnya partisipasi dalam pemilu dan perbaikan sistem pemilu.

Media sosial (medsos) telah menjadi arena dan habitus baru yang mempengaruhi diskursus personal dan publik serta praktik politik kontemporer.

Rekaman jejak-digital menunjukkan bahwa partisipasi politik Gen Z adalah corak politik ber-platform digital yang terkoneksi dengan aksi lapang.

Rekomendasi

Pendidikan politik yang kompatibel dengan spec Gen Z untuk menindaklanjuti dan merawat literasi politik Gen Z.

Institusi sosial dan politik yang kompatibel dengan Gen Z untuk mewadahi aspirasi dan hasrat politik Gen Z.

analisis medsos analisis big data
Retweet terbanyak (Sumber: Drone Emprit Academy (DEA) Net, 4 Oktober 2019).

Agenda politik yang kompatibel dan ramah Gen Z, misalnya kampanye politik atau kampanye pemilu yang “Gen Z Banget”.

Partai politik yang kompatibel dengan spec Gen Z.

Penguatan diskursus publik tentang makna politik-positif secara kontekstual dan updated untuk pembangunan politik yang kompatibel dengan perubahan sosial dan situasi sosial-politik kontemporer.

analisis medsos analisis big data politik digital
Top User by Impact / Pengguna Medsos dengan Pengaruh Terbesar (Data DEA Net, 4 Oktober 2019)

Sebagai instrumen penguatan diskursus publik, sangat perlu pemahaman tentang politik digital dalam koridor revolusi industri 4.0.

Silakan bandingkan kesimpulan tersebut dengan hasil polling di atas.

Ada komentar?

Okay, semoga bermanfaat.

Yes.. sampai jumpa yak…

 

Salam,

Wawan E. Kuswandoro

Dosen FISIP Universitas Brawijaya, Peminat Masalah Politik Sehari-hari (Everyday’s Politics) & Politik Digital

 


Artikel ini saya jadikan referensi pada Seminar Evaluasi Pemilu 2019 oleh KPU Kota Probolinggo, Jawa Timur pada tanggal 7 Oktober 2019

https://pijarnews.id/1021/news/2019/kpu-kota-probolinggo-adakan-seminar-evaluasi-pemilu-serentak-2019/


3 thoughts on “Peran Politik Milenial

  1. Ideal Partai Politik yaitu partai politik yang dibangun untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

    Like

    1. Terima kasih masukannya, Riska.. Jangan segan urun ide terus ya… Semoga urun ide anda merupakan sedekah bagi bangsa dan negara.. hehe.. Semua partai politik kayaknya mengusung jargon cita2 “memperjuangkan kesejahteraan rakyat” ya… Yang pas bener di hati milenial giman aya cara partai agar cita2 tercapai? hehe…

      Like

Leave a Reply (Tulis Balasan atau Komentar)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s