Dari Penusukan Menko Polhukam Hingga Pencopotan Dandim: Siapa Korban Medsos?

Trending topic pekan ini (9 – 16 Oktober 2019) di jagad maya Indonesia adalah ihwal penusukan atas diri Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Republik Indonesia, Wiranto. Sebenarnya tak hanya jagad maya yang heboh, jagad landsekap pada kehidupan di atas tanah juga heboh, tetapi kan kita tahunya di dunia maya… Ya, dunia maya, dunia media social, medsos, kini seolah menjelma menjadi “dunia baru”, “peradaban baru”, bahkan “kebenaran baru”, “tuhan baru”. Membutuhkan jenis “kecerdasan baru” untuk bisa hidup di dunia digital ini. Ya mungkin sejenis “kecerdasan digital” juga.

Maka, tulisan inipun mendeskripsikan dinamika dunia maya, dunia medsos, terkait peristiwa ini. Ada dua peristiwa penting, yakni penusukan terhadap Menko Polhukam dan dicopotnya seorang Dandim. Dan kedua peristiwa ini dihubungkan dan diperantarai oleh media social (medsos). Pertama, medsos memperantarai antara peristiwa yang terjadi dengan “kita” (“kita”, adalah penghuni dunia maya). Kedua, medsos pula yang memperantarai tercopotnya Dandim Kendari. Dan, peristiwa inipun, diperantarai pula oleh medsos hingga sampai ke kita.

Pelajarannya (umum): bijaklah bermedsos, agar tak terkena kecelakaan. Bukan medsos yang mencelakai atau mencelakakan, tetapi tafsir dan kepentingan-lah yang membuat kita (mungkin) bisa terkena celaka. Tafsir kita, kepentingan kita, mungkin juga tafsir dan kepentingan pihak lain. Medsos hanyalah alat, sarana, media, infrastruktur, fasilitas, perantara.

Kecelakaan umum adalah kecelakaan pemikiran dan respons pada pengguna medsos, jika pengguna medsos tak menggunakan “kaidah berpikir benar” dalam menyikapi medsos, berita online, dsb. Karena medsos berisi apapun kepentingan terselubung di balik berita yang beredar.

Medsos adalah arena pertarungan wacana, arena “jualan”, mulai “jualan” barang, pikiran, ide hingga “ideologi”.

Baca: Melawan Dominasi Wacana Mainstream: Perang Wacana Memperebutkan Panggung Kuasa.

Perhatian dan keterlibatan publik pada medsos sangat besar, hingga apapun aktivitas manusia modern (pasca-modern?) dapat kita telusuri di medsos. Perhatian publik terbesar dapat kita lacak pada isu medsos yang menduduki “puncak teratas perhatian” atau sering disebut “trending topic”.

Trending topic sesuatu isu di medsos menandakan perhatian dan keminatan publik atas isu tersebut.

Trending topic yang diukur dalam tulisan ini adalah yang terjadi pada platform twitter, karena pembicaraan public pada isu ini paling banyak terjadi di twitter. Lagian, platform medsos “burung emprit” ini paling memungkinkan terjadinya percakapan secara langsung dan real time antar pengguna twitter. Pemikiran yang sejalan pada isu yang sama juga dapat terilustrasikan di twitter, yakni pada retweet. Orang yang me-retweet suatu tweet adalah orang yang menyukai atau yang setuju atau sejalan atau sepemikiran dengan tweet tersebut.

Jadi, kita bisa memetakan ada berapa orang yang “terkelompok” dalam isu yang sama.

Dari banyaknya tweet, pemetaan kelompok-kelompok pemikiran yang sama atau sejenis, juga sentiment public atas sesuatu isu, kita dapat menganalisis bagaimana perhatian dan respons publik atas sesuatu isu yang sedang berkembang, sentimen yang terjadi, dan kelompok-kelompok pikiran sejenis.

Untuk itu, saya menggunakan (lagi), data dari Drone Emprit Academic (DEA), untuk rentang waktu 9 – 19 Oktober 2019.

analisis medsos

Pada kasus penusukan Menko Polhukam ini, jumlah pembicaraan tentang “Wiranto” mendadak melampaui pembicaraan tentang Arteria Dahlan – Emil Salim bahkan tentang meninggalnya Akbar Alamsyah, aktivis mahasiswa yang melakukan demonstrasi.

Wiranto ternyata lebih menarik perhatian warganet daripada Arteria Dahlan – Emil Salim dan Akbar Alamsyah.

Insiden penusukan terhadap Menko Polhukam ini sebuah peristiwa sangat mengejutkan publik. Seorang pejabat, menteri, Menko Polhukam, mantan jenderal militer, ditusuk dengan mudah oleh seorang tak dikenal dengan mengunakan senjata tajam sejenis pisau kecil bermata tajam di kedua sisi. Penusukan terjadi sesaat Wiranto turun dari mobil ketika akan meresmikan sebuah gedung di Pandeglang, Banten.

Saya tak menuliskan peristiwa penusukan tersebut secara rinci di sini, karena sudah banyak ditulis di media massa online.

Sontak, berbagai spekulasi dan pendapat orang pun berseliweran di dunia maya. Respons warganet luar biasa pada peristiwa ini. Mungkin karena yang menjadi korban penusukan adalah seorang menteri, mantan jenderal pula. Bukan Jenderal Naga Bonar ni… Juga bukan Wak To tukang cendol di sudut jalan. Apalagi anak-anak badung yang tawuran di jalanan.

Gegap gempitanya respons warganet terhadap insiden yang berlangsung singkat ini, mengalahkan trending topic atas peristiwa Arteria Dahlan dan Emil Salim, serta Akbar Alamsyah, mahasiswa yang meninggal dunia pasca demo mahasiswa itu.

Akun-akun yang meluncurkan respons tentang “Wiranto”, dalam hitungan tweet paling banyak (top infuencers):

penusukan menko polhukam wiranto

Terhadap insiden penusukan terhadap Wiranto, sebagian warganet percaya dan menaruh prihatin, simpati, mungkin kasihan. Sebagian tidak percaya, menganggapnya itu settingan, rekayasa, tanpa menyebutkan motifnya, mengapa dan untuk apa membuat rekayasa semacam itu.

Beberapa diantaranya menghubungkan peristiwa penusukan terhadap Wiranto itu dengan aksi radikalisme dan mengaitkannya dengan sesuatu organisasi yang terstigma “radikal”, JAD. Inilah beberapa topic media online terkait insiden penusukan Wiranto itu.

Saya pun tak hendak mengira-ngira itu settingan atau bukan, karena bukan kapasitas saya, juga di luar ilmu saya. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mendeskripsikan bagaimana respons warganet terhadap peristiwa penusukan Menko Polhukam ini dan peristiwa lain di sekitar penusukan itu.

Ada peristiwa ikutan yang tak kalah menyedot perhatian warganet, yakni pencopotan Komandan Kodim (Dandim) Kendari, Kolonel Hendi Suhendi setelah unggahan media social istrinya yang dinilai bernada negatif dalam menulis komentar di medsos yang diduga mengarah pada insiden penusukan Menko Polhukam Wiranto.

Diberitakan, bahwa pasca insiden penusukan Wiranto, terdapat komentar medsos yang ditulis oleh “IPDN”, istri Kolonel Hendi Suhendi yang kala itu menjabat Dandim Kendari.

Kolonel Hendi Suhendi, seorang lulusan Akabri tahun 1993, sebelum menjabat Dandim Kendari, Hendi pernah menjabat Dandim 0303/ Bengkalis, Riau pada 2011. Pernah juga bertugas sebagai Atase Darat Kantor Atase Pertahanan (Athan) Republik Indonesia di Moskow, Rusia. Kemudian pindah tugas pada Oktober 2018.

Kolonel Hendi Suhendi kemudian dicopot oleh Kasad Jenderal Andika Perkasa, pasca postingan istrinya yang diduga mengarah pada sosok Wiranto, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan.

analisis medsos
Retweet tertinggi, yakni akun-akun yang memiliki kecenderungan sama dalam merespons isu #RespekUntukDandimKendari

Nah, peristiwa ini juga memicu berbagai opini di media social. Sama, ada pro istri Dandim, mendukung dalam arti tidak menyalahkan tindakan istri Dandim tersebut. Ada pula yang kontra, yakni tidak setuju dengan tindakan istri Dandim tersebut. Tentu, dengan alasan masing-masing.

Yang menarik, muncul tagar #RespekUntukDandimKendari dengan 4 ribuan tweets.

Berikut adalah analisis terhadap tagar #RespekUntukDandimKendari yang data analisisnya di-support oleh Drone Emprit Academy (DEA).

Mereka yang pro, menganggap komentar medsos istri Dandim tersebut, yang berinisial IPDN, wajar dan biasa. Sebuah komentar ibu-ibu yang juga menggambarkan situasi umum peristiwa-peristiwa yang berdekatan dengan insiden penusukan Wiranto.

Sedangkan mereka yang kontra, menganggap tindakan istri Dandim tersebut tidak layak dilakukan oleh seorang istri perwira militer.

analisis medsosPro-kontra tentang komentar sang istri Dandim Kendari ini dan aneka respons terhadap pencopotan Dandim Kendari (HS), diikuti oleh aneka berita lain yang berisikan tentang himbauan kehati-hatian dalam bermedsos.

Tweet yang muncul dengan tagar #RespekUntukDandimKendari ternyata dibuat oleh akun-akun human (natural), dengan analisis bot pada level rendah yakni pada score bot 2,06. Angka ini menunjukkan akun yang cukup natural, bukan akun bot (robot).

Berikut adalah akun-akun paling berpengaruh (influencer) pada #RespekUntukDandimKendari:

analisis medsos - top influencers
Top Infuencers (Akun paling berpengaruh) pada tagar #RespekUntukDandimKendari

 

Epilog

Menulis sesuatu di medsos, sama halnya dengan berucap, memiliki konsekuensi dan tanggungjawab atas isi ucapan atau tulisan atau unggahan.

Bedanya, di medsos, ada jejak tertulis, bukti tertulis, yang dianggap mewakili penulisnya. Siapapun penulisnya. Dan ada kemungkinan, terdapat pihak-pihak yang terganggu dengan isu tulisan atau unggahan seseorang.

Termasuk respons atas berita-berita yang berlalu lalang di medsos, yang belum tentu terjamin kebenarannya. Mengingat banyaknya orang yang memproduksi berita, menyebar wacana, untuk sesuatu maksud tertentu.

Maka, siapa korban medsos, sebenarnya?

 

Wawan E. Kuswandoro

Pengajar di FISIP Universitas Brawijaya, Peminat Politik Sehari-hari (Everyday’s Politics), Politik Digital, Pendiri Sekolah Politik “Wacana Kita”.

 

 


Leave a Reply (Tulis Balasan atau Komentar)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s