Mahakurawa: Dekonstruksi Pikiran Kebenaran Uji Keimanan Semiliar Umat

dekonstruksi kebenaran pikiran semiliar umatLagi mencoba berlatih lagi membongkar “kebenaran universal” yang telah terlanjur merasuki pikiranku dan kuyakini kebenarannya satu miliar persen. Kini aku harus belajar menguji keimananku yang aku yakin juga seiring dengan keimanan semiliar umat. Mendekonstruksi pikiran kebenaran untuk menguji keimanan semiliar umat bukanlah hal mudah.

Ya, pikiran kebenaran universal yang harus kudekonstruksi ini, sebagaimana terkemas dalam sebuah kisah epos berdimensi keyakinan dan kemanusiaan, yang kusuka dan kubaca berjilid-jilid sejak SMP. Dan kuyakin, “kebenaran” ini juga telah diterima oleh umat sedunia hehe.. Mahabharata! Ada filemnya pula, di TPI, diputar pada tahun 1991-an.

Kini, muncul Mahakurawa yang mendekonstruksi pikiran kebenaran sebagaimana terkandung dalam Mahabharata, sekaligus menjungkirbalikkan elemen-elemen pendukung kebenaran Mahabharata, peristiwa hingga karakter tokoh.

Bagaimana rasa “keimanan”-ku takkan tercabik-cabik jika tiba-tiba tersuguhkan sebuah kisah yang sama sekali berkebalikan dari keyakinanku itu, keyakinan yang selaras dengan keyakinan semiliar umat!

Bagaimana jika tersuguhkan sebuah kisah yang dituturkan oleh pihak yang kalah, yang terhina, yang terinjak-injak, yang bertempur tanpa berharap campur tangan dewata, yang meyakini bahwa tindakan mereka tepat, sesuai dharma.

Mahakurawa, menyajikan kisah Mahabharata dari sudut pandang lain, yakni sudut pandang dan versi pihak yang dianggap “jahat” oleh versi mainstream. Kita terlanjur meyakini, haqqul yakin, percaya satu miliar persen bahwa Duryudana, Aswatama, Sengkuni adalah tokoh-tokoh jahat.

Siapa yang menggambarkan demikian?

Sejarah ditulis oleh para pemenang!

Kisah drama kemanusiaan dan ide kebenaran, ideologi, ditulis dan diproduksi oleh para pemenang, oleh penguasa!

Dan mengapa kita percaya begitu saja?

Sebagai contoh. Duryudana. Nama aslinya adalah “Suyudana”. Tapi kitab dan kisah Mahabharata menyebutnya dengan “Duryudana”, sebuah nama yang diberikan oleh Pandawa untuk menghina. Sebuah awalan “dur” digunakan untuk menggantikan “su”. Pandawa menggunakan “dur” untuk menyebut, “dur” yang memiliki makna “orang yang tak mampu mengendalikan kekuasaan atau kekuatan”.

Suku kata “dur” dapat kita temui pada kata misalnya “dur-angkara”.

Kisah kehidupan, “kebenaran” ditulis oleh para pemenang, oleh penguasa.

Dan mengapa kita mempercayainya?

Pertama, belum ada informasi baru yang tersedia.

Kedua, kita (penerima informasi, wacana) tidak memiliki perangkat alat ukur, sehingga kita menerima.

Ketiga, informasi yang datang pertama kali, cenderung menguasai pikiran kita.

Pada artikel terdahulu, telah saya tuliskan, bahwa kisah-kisah yang tersaji adalah wacana yang diproduksi oleh pihak-pihak tertentu yang membawa agenda dan kepentingan, untuk menguasai pikiran khalayak.

Dan, apa yang kita terima dan yakini, sebenarnya adalah wacana dominan yang mendominasi pikiran dan cara berpikir kita.

Dominasi ini begitu kuatnya sehingga kitapun enggan keluar darinya, menikmatinya dan kita cenderung menolak apapun yang datang belakangan tanpa berkeinginan berpikir kritis, setidaknya mempertanyakan “benarkah demikian?”.

Pada tataran yang sedemikian, kita menikmati menjadi korban dominasi pikiran dan cara berpikir.

Keyakinan semiliar umat seperti ini adalah sebuah wacana dominan, yang menguasai kita.

Baca: Melawan Dominasi Wacana Mainstream: Perang Wacana Memperebutkan Panggung Kuasa.

 

Sejarah, kisah kehidupan, kisah kemanusiaan, ide – pikiran dan ajaran kebenaran, ditulis oleh para pemenang, oleh penguasa.

Pemenang mah bebas… Penguasa mah suka-suka… Mereka memiliki kekuatan untuk menulis sejarah versinya, menulis kisah kemanusiaan, kisah ajaran, ideologi, menurut versinya.

Dalam perspektif “ilmu wacana”, apapun yang diproduksi tersebut, disebut “wacana”, “diskursus” (discourse).

Setiap wacana yang diproduksi, pasti memiliki tendensi kepentingan (politis) di baliknya.

Bagaimana kita?

Adakah menyediakan ruang berpikir kritis atau berpikir benar, dengan mempersilakan pikiran untuk sejenak mau berkata “mungkinkah ada kebenaran versi lain yang belum pernah saya ketahui?”

Ini masih belum merupakan ‘kesimpulan’ lho. Masih pada tataran ‘berpikir’, kontemplasi, ‘berdebat-dengan-diri-sendiri’.

Karenanya, semua ide pikiran yang masuk adalah bahan mentah, yang masih perlu diperdebatkan, sebelum diambil kesimpulan dan disikapi berupa tindakan.

Ide yang diperdebatkan, atau ‘discursive idea’, ‘discursive discourse’ merupakan pertarungan wacana dalam diri, untuk diambil kesimpulan dan diambil sesuatu tindakan.

Menerima setiap wacana adalah mempersilakan masuk ke dalam ruang berpikir, ruang diskursif, bukan atau belum menerima sebagai sebuah “kebenaran”.

Tidak mudah. Karena bersinggungan dengan keyakinan. Kadang harga diri, ego.

Seperti Mahabharata. Dia telah merasuki alam pikir kita dan telah kita terima sebagai sebuah ‘kebenaran’.

Padahal itu adalah versi satu pihak saja. Yakni versi Pandawa, versi pemenang. Dan kita tidak berusaha mem-verifikasi-nya secara adil, tetapi langsung ,menelannya bulat-bulat.

Secara tak disadari, kita telah berlaku tidak adil sejak awal, tidak adil sejak dari pikiran.

Tidak melakukan “cover both side”, verifikasi, triangulasi, mencari sumber lain.

Oh, belum ada versi yang lain, jadi saya terima saja.

Okay.. Sekarang ada versi lain, versi pihak yang kalah, yang terkalahkan, yang terhina, yang terinjak-injak, yang bertempur tanpa berharap bantuan dewata.

Ya, saya masih dalam proses membaca Mahakurawa ini, ada 2 jilid: Mahakurawa 1: Cakra Manggilingan dan Mahakurawa 2: Kaliyuga.

snorkelling jetskiing banana boating etc
Ini menu beach n oceanic gaming: snorkeling, jetskiing, banana boating, speed boating, etc.. Mau?

wawan kuswandoro mahakurawaKedua buku ini baru saya terima pada tanggal 19 Oktober 2019 pukul 16.22 WIB. Sempat saya baca malam harinya. Saya ingin lanjutkan baca keesokan paginya, 20 Oktober 2019.

Sudah start baca… eh, istri mengajak saya ke pantai… kayaknya menarik.. berangkat daah.. Buku kubawa, bisa dibaca di pinggir pantai..

Eh, mending menikmati pantai laut saja.. hehe.. 🙂 Videonya di sini ya.. hehe… 🙂

Ini pantai utara, bukan pantai selatan.. 🙂

Kalau pantai selatan, wilayahnya Ratu Laut Selatan, yang mungkin pada hari ini beliau sedang ‘Melawat Ke Barat’, melakukan perjalanan ke barat…

Kembali ke Mahakurawa tadi…

Mahakurawa adalah ‘wacana baru’. Wacana baru yang melawan wacana mainstream. Mampukah wacana baru ini mengalahkan wacana mainstream, wacana dominan? Yang terlanjur merasuki alam pikir khalayak, semiliar umat?

Tergantung umat… publik.. penerima wacana.. Juga dari sisi pemroduksi wacana-nya juga.. Seberapa kuat dia mampu memberondongkan wacana-nya, dan dengan cara bagaimana sehingga wacana barunya dapat diterima publik.

Tetapi, bagi saya…

Saya telah membuka pikiran saya, untuk menerima, tepatnya mempersilakan wacana versi lain masuk pikiran saya, untuk saya cerna, saya diskursifkan.

Untuk apa?

Memperkaya wacana, memperkaya referensi, memperkaya pikiran. Tentang ajaran kemanusiaan, ajaran kehidupan.

Truss.. mana yang dipakai…

Tergantung kebutuhan.. hehe… 🙂 Kebutuhan apa kepentingan? Hahaha… 🙂 🙂

Yang jelas, kebutuhan mendapatkan informasi, berita, ajaran kebenaran, ideologi, dsb, makin lengkap kan makin baik…

Karena, satu versi saja pasti tidak cukup valid. Apalagi, satu kebenaran itu, diciptakan oleh pemenang, oleh penguasa. Yakni kebenaran versi pemenang, versi penguasa. Satu sisi saja.

Maka upayakan mengetahui satu sisi yang lain lagi. Supaya berimbang, lengkap, sehingga kesimpulannya pun sehat.

“Because life is a discursive of discourses, a dialectic of events” (WK)

 

Probolinggo, Seusai dari pantai, 20 Oktober 2019

Bertepatan dengan hari pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo – Ma’ruf Amin.

“Selamat atas Dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo – Ma’ruf Amin, untuk masa tugas 2019 – 2024″

Akankah penguasa menciptakan sejarah versinya?

Menciptakan kebenaran versinya?

 


Leave a Reply (Tulis Balasan atau Komentar)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s