Link – Match dan Indikator Keberhasilan Pendidikan

mendikbud nadiem makarim
Keterangan Gambar: Penulis (paling kiri) ketika bertugas sebagai Ketua Dewan Pendidikan menginisiasi Workshop Penyusunan “Indikator Keberhasilan Pendidikan” (1 Mei 2006). Ide ini berawal dari kegelisahan akan praktik pendidikan yang tak tentu arah.

Link and Match, relevansi  pendidikan tak hanya bicara tentang “nyambung dan mathuk-nya lulusan institusi pendidikan pada pasar kerja dan dunia industri 4.0, namun lebih mendasar pada pembentukan nilai diri dalam relasinya dengan lingkungannya.

Yakni pada pemampuan subjek-belajar untuk memberi nilai tambah pada diri dan lingkungannya secara bertanggungjawab setelah menjalani proses pembelajaran.

Ada 5 kata kunci untuk ‘pembentukan nilai diri’ ini: pemampuan, memberi nilai tambah, diri dan lingkungan, bertanggungjawab, proses pembelajaran.

Tujuan pendidikan nasional, jika diperas adalah ‘pembentukan nilai diri’ pada pembelajar atau subjek belajar, atau dalam bahasa Undang Undang disebut ‘peserta didik’, atau dalam bahasa ‘pendidikan untuk semua’ adalah ‘warga belajar’.

Tentang 5 kata kunci di atas:

Pemampuan, meliputi keseluruhan tindakan intervensi pedagogik kepada subjek-belajar.

Memberi nilai tambah, meliputi target dari proses intervensi pedagogic yang didesain bagi subjek-belajar. Yakni beraspek keilmuan, dan etika.

Diri dan lingkungan, meliputi subjek belajar dan jangkauan subjek belajar, artinya: orientasi pembelajaran dari subjek-belajar tak hanya berhenti pada diri sendiri namun melibatkan lingkungannya (lingkungan alam, lingkungan sosial). Ada nilai kontekstualitas dan etika sosial di sini.

Bertanggungjawab, meliputi kesadaran subjek-belajar bahwa proses pembelajaran adalah bertanggungjawab tentang dirinya, atas lingkungannya (lingkungan alam, lingkungan sosial) dan kepada Tuhan. Ada nilai etika kemanusiaan universal di sini: kesadaran sebagai hamba Tuhan untuk berbuat kebaikan di bumi.

Proses pembelajaran, meliputi keseluruhan dan segala aktivitas baik formal maupun informal yang mendukung upaya pemampuan subjek-belajar.

Disebut ‘proses pembelajaran’, karena proses belajar bisa terjadi di mana saja, tidak terbatas pada institusi penyelenggara pendidikan yang disebut “sekolah, madrasah, kampus, dsb”.

Proses pembelajaran bisa terjadi di rumah, surau, masjid, gereja, vihara, dangau, bawah pohon, kolong jembatan, rumah kardus, bantaran sungai, jalanan, dan tempat-tempat nongkrong, cafe, warkop, dll yang penting ada wifi… Mereka bisa belajar via Google, YouTube, dsb.

Disebut ‘subjek-belajar’, karena sesiapa saja berhak mengalami proses pembelajaran. Subjek-belajar tidak terbatas pada mereka yang disebut “murid, siswa, santri, mahasiswa, dsb”, tetapi siapapun yang ingin menambah nilai kualitas dirinya.

Dan, siapapun yang ingin menambah nilai kualitas dirinya ini, berada di mana saja di bumi Indonesia. Mereka berada dan hidup di perkotaan, perdesaan, pedalaman, lereng gunung, pinggir hutan, tengah hutan, di kolong jembatan, bantaran sungai, rumah kardus, pinggir rel kereta, bawah gerobak sampah, rumah-rumah, jalanan, perahu ikan, tempat nongkrong, cafe, warkop, dsb.

Mereka berada di dalam jangkauan fasilitas pendidikan modern dan di luar jangkauan (coverage area) fasilitas pendidikan modern!

Mereka berada di dalam jangkauan wifi dan internet yang berisi aneka bahan belajar dan mereka yang hidup dan tinggal di luar jangkauan (coverage area) wifi dan internet!

Mereka hidup dan berada di mana saja di bumi Indonesia, dengan “kenormalan” hidup, bahkan “ketidak-normalan” hidup. Mereka bahkan memiliki berbagai keterbatasan: fisik, ekonomi, sosial, dsb.

Mereka semua adalah anak-anak Indonesia yang berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan yang dapat menolong mereka agar mereka mampu menolong diri sendiri, keluarga dan lingkungannya.

Pendidikan yang memberi mereka kemampuan untuk memberi nilai lebih pada lingkungannya baik lingkungan alam maupun lingkungan sosialnya.

Pendidikan yang dapat mereka manfaatkan untuk mengelola lingkungan dirinya secara bertanggungjawab untuk bisa bertahan hidup dan berkembang serta mengembangkan kehidupan bersama lingkungannya.

Pendidikan yang nyambung dan mathuk (link and match) atau relevan dengan lingkungannya, yakni lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budayanya!

Mereka yang memiliki kehidupan dan tanggungjawab di lingkungan sosial dan budaya berciri urban (perkotaan), berteknologi modern, Teknologi Informasi, maka pendidikan yang mereka jalani dan alami harus mampu menolong mereka untuk mengembangkan diri dan lingkungannya.

Mereka yang memiliki kehidupan dan tanggungjawab di lingkungan sosial dan budaya berciri rural (perdesaan, pedalaman), jauh dan atau minim fasilitas teknologi modern, jauh dan atau minim fasilitas Teknologi Informasi, maka pendidikan yang mereka jalani dan alami harus mampu menolong mereka untuk mengembangkan diri dan lingkungannya.

Dan seterusnya….

Pendidikan kita sebaiknya didesain untuk menciptakan subjek dan aktor lokal yang mampu memberi manfaat bagi diri dan lingkungan terdekatnya:

Agar mereka mampu melihat peluang dari “keadaan” seterbatas apapun yang ada di lingkungan terdekatnya.

Agar mereka mampu menciptakan peluang bagi dirinya sendiri (dan syukur jika bisa untuk orang lain juga) di lingkungan terdekatnya.

Agar mereka tak lagi bingung “mencari kerja di tempat lain” yang belum tentu didapatkan, karena di tempat lain, di tempat baru, mereka ini juga tidak  mampu menemukan apa-apa. Sama saja kan.. Sama aja di tempat sendiri.

Maka.. pendidikan yang manakah yang engkau desainkan?

Pendidikan yang seperti apakah yang engkau tawarkan?

Pendidikan seperti apakah yang link and match itu?

Pendidikan seperti apakah yang dikatakan ‘berhasil’ itu?

Pembahasan link and match, adalah pembahasan tentang indikator keberhasilan pendidikan.

Apa indikatornya, bahwa pendidikan dikatakan ‘berhasil’, bisa link – match?

 

Indikator Keberhasilan Pendidikan

Karenanya, di bagian ini saya unjukkan 4 (empat) pokok persoalannya, secara ringkas saja ya. Point 1 dan 2 berbasis pengalaman pribadi, yakni:

Kesatu,

Target dan indikator keberhasilan pendidikan nasional.

Kedua,

Bagaimana mencapai target target dan indikator keberhasilan pendidikan nasional tersebut.

Ketiga,

Implikasi Teknis

Keempat,

Seorang dengan “spec” Nadiem Makarim, kompatibelkah untuk tugas dan fungsi pencapaian poin kesatu – ketiga di atas sebagai creator pendidikan di level kementerian (selaku Menteri)?

Okay kita obrolin satu per satu ya…

 

Kesatu: Target dan Indikator Keberhasilan Pendidikan

Saya uraikan secara brainstorming dalam bentuk kalimat tanya (interogatif), karena saya sedang menginterogasi Pak Mendikbud, eeeh.. sorry Mas Menteri… , karena upaya men-setting pendidikan yang berguna, bertitik tolak dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini ini.

Dan brainstorming ini saya serap-pantulkan dari nuansa praktik pendidikan yang terlanjur diamalkan dan sedang dipraktikkan di negeri kita.

Apakah target dan indikator keberhasilan pendidikan nasional kita?

>> Apakah untuk menghasilkan peserta didik yang cerdas dan pintar? Cerdas bagaimana? Dan pintar apa?

>> Apakah untuk menghasilkan menghasilkan peserta didik yang memiliki nilai tinggi? Nilai Ujian Nasional (UN) tinggi?

>> Apakah untuk menghasilkan menghasilkan peserta didik yang berprestasi? Apa ukuran prestasi itu?

Bagaimana mengukur “prestasi”, hasil belajar, hasil pendidikan?

Bagaimana merealisasikan target pendidikan untuk daerah-daerah minim fasilitas?

>> Atau apa? Untuk menghasilkan apa? Pendidikan kita ingin menghasilkan apa?

Bagaimana men-setting pendidikan yang berguna bagi jutaan anak-anak Indonesia yang hidup di daerah perdesaan, daerah terbelakang?

Bagaimana men-setting pendidikan yang berguna bagi jutaan anak-anak Indonesia yang hidup dalam berbagai keterbatasan?

Keterbatasan: keterbatasan fisik, keterbatasan ekonomi keluarga, keterbatasan social, keterbatasan lingkungan territorial, dsb.

Kesimpulan dan intinya: pendidikan diselenggarakan dan di-setting untuk menghasilkan luaran yang seperti apa? Mengapa demikian?

Secara ringkas, saya berpendapat:

Bahwa pendidikan diselenggarakan dan di-setting untuk menghasilkan luaran:

Lulusan pendidikan yang memiliki kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Mengapa demikian? Karena ini adalah kecakapan elementer (basic life skills) bagi seseorang.

Itu sudah cukup untuk menolong dirinya sendiri dan orang-orang sekitarnya, untuk mampu survive di dunia pada kurun waktu minimal 10 tahun atau 20 tahun ke depan dari kehidupannya seusai lulus dari menempuh proses pembelajarannya, proses pendidikannya.

Sebagai ilustrasi:

Ilustrasi #1: Keterampilan apa yang menolong hidup anda setelah anda usai / lulus sekolah/ kuliah?

Ilustrasi #2: Sudahkah anda atau putra-putri anda seusai menempuh pendidikan, mempunyai “kecakapan dasar (basic life skills) tersebut?

Adakah kecakapan atau “ilmu” lain yang diperoleh di luar institusi resmi pendidikan? Dan “ilmu” itu ternyata yang lebih menolong anda dibanding “ilmu sekolahan”?

Jika ada jawaban “iya” satu saja, maka sekarang saatnya meninjau ulang desain pendidikan persekolahan yang sedang dipraktikkan!

Karena pendidikan diproyeksikan untuk mampu men-support seseorang untuk bisa hidup dan menakhlukkan kehidupan di 10 atau 20 tahun ke depan.

Yakni pendidikan yang mampu menjangkau subjek-belajar di mana saja, dengan latar belakang seperti apa saja dan yang hidup di arena-lingkungan seperti apa saja.

Men-setting upaya untuk bisa survive di suatu zaman kelak yang bukan lagi zaman milik sang creator dan provider pendidikan, memerlukan pemikiran visioner, futuristic, imajinatif, kreatif, inovatif dan berani.

Sedikit saya uraikan tentang kecakapan elementer (basic life skills) yang berisi: kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Kecerdasan kontekstual: diawali dari kecerdasan analitik sebagai modalitas personal, dan bersambung dengan kecerdasan untuk mengenali dan merespons lingkungannya (lingkungan alam, lingkungan sosial).

Kecerdasan analitik ini untuk menumbuhkembangkan kemampuan analitik yang bersinggungan dengan modalitas personal (kecenderungan, keminatan, passion, emotion).

Kecerdasan analitik diperoleh melalui pembinaan berlogika dan berpikir benar.

Modalitas personal sifatnya unik, berbeda tiap anak/ orang dan perlu ditumbuhkembangkan agar tidak luntur dan hilang selama berproses dalam lingkungan praktik pendidikan (sekolah, madrasah, pesantren, kampus, kursus, komunitas/ kelompok belajar, dsb).

Contoh: peserta didik yang memiliki passion (modalitas personal) menulis, tidak cakap dalam berhitung dan bermain angka, maka perkuatlah passion menulis tersebut yang termanifestasikan dalam proses belajarnya secara terstruktur dalam dukungan kurikulum yang progresif. Perkuat di bidang tulis-menulis, membaca, bahasa. Lulus SMA sudah bisa dipake tu kecakapan menulisnya. Jika lanjut kuliah, nyambung ke jurusan bahasa atau ilmu komunikasi atau jurnalistik.

Kemampuan pada aspek personal ini sambungkan ke aspek social (kontekstual), untuk membina kecerdasan kontekstual-nya di bidang menulis.

Maka, keahlian menulis berlambar passion inilah yang bakal menolong kehidupannya kelak.

Demikian juga, peserta didik yang passion eksakta (misalnya anak suka tanaman, binatang atau suka utak-atik), bahasa, seni, maka fokuskan ke masing-masing passion tersebut.

Ini semua dipersiapkan sejak pendidikan dasar. Dan nyambung ke jenjang pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi.

Kreatif: kemampuan berpikir kreatif, imajinatif dan kemampuan melakukan tindakan kreatif.

Inovatif: kemampuan berpikir dan melakukan tindakan inovatif. Inovatif diawali / dibina dari ‘kreatif’.

Tanggungjawab: ini adalah elemen soft-skills sangat penting, untuk menjamin kepastian terhadap diri sendiri dan orang lain misalnya ketika terlibat dalam satu teamwork. Elemen ‘tanggungjawab’ ini bisa menumbuhkan keinginan dan kemudahan untuk melakukan ‘kolaborasi, kerjasama’. Tanggungjawab bermakna tanggungjawab untk diri sendiri, orang lain, lingkungan alam, sosial, bangsa – Negara dan Tuhan.

Beretika: adalah etika personal dan etika lingkungan (lingkungan alam, lingkungan social), meliputi budi pekerti dan nilai kebaikan universal termasuk nilai keagamaan.

Dan untuk menumbuhkembangkan kecakapan elementer, (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika tersebut, diejawantahkan (dipenetrasikan) dan diditribusikan pada praktik proses pendidikan di masyarakat yakni yang kita kenal sebagai “sekolah, madrasah, kelompok belajar, kursus, kampus, dsb” itu: dari jenjang paling dasar hingga paling tinggi.

Penetrasi dan distribusi elemen dan muatan kecakapan elementer, (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika tersebut tentu saja, berwujud kurikulum, yang di-desain kompatibel dengan target pendidikan sebagaimana deskripsi di atas.

Ini kita bicara tentang “provider pendidikan” ya… Yakni institusi penyedia layanan praktik proses pendidikan. Kemudian, kita lanjut dengan kurikulum, sebagai konsekuensi implementatif-operasionalnya. Dan dilanjut dengan manajemen institusi penyelenggara pendidikan.

Tentang institusi penyedia layanan praktik proses pendidikan, kita mengenal institusi pendidikan: formal, non-formal, informal. Atau, sebut saja “pendidikan formal, non-formal, informal”.

Pendidikan formal, ada jenjang:

Pendidikan anak usia dini (PAUD) yakni TK (Taman Kanak-kanak) dan RA (Raudhatul Athfal); yang kemudian terma “pendidikan anak usia dini” (disingkat “PAUD” biar ringkes) menjadi semacam “merk” atau “label” tersendiri hehe.. Kayak motor Honda merk Yamaha hehe…

Pendidikan dasar yakni SD/ MI;

Pendidikan menengah yakni SMP/ MTs dan SMA/ MA/ SMK;

Pendidikan tinggi yakni perguruan tinggi.

Pendidikan non-formal, meliputi:

Pendidikan anak usia dini: kelompok bermain (Play Group);

Kelompok Belajar, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, pendidikan dan keterampilan kerja, organisasi social, kelompok masyarakat, dsb.

Catatan: sebutan di sini adalah sebutan “generic” ya. Di masyarakat, bisa berwujud institusi atau badan bernama apa saja: bisa Kelompok Belajar (KB), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Belajar, organisasi masyarakat, organisasi kepemudaan dengan berbagai nama/ “merk”.

Pendidikan Informal, meliputi:

Pendidikan di lingkungan keluarga (pendidikan keluarga): membentuk watak, kebiasaan, perilaku;

Pendidikan di lingkungan sosial – masyarakat yang terselenggara secara mandiri.

Ranah pendidikan formal, non-formal, informal memerlukan koneksitas (ketersambungan) satu dengan yang lain agar desain pendidikan tidak terlepas dan dapat terselenggara secara terstruktur dan massif yakni nyambung antara institusi sekolah/ lembaga pendidikan dalam bentuk dan nama lain dengan institusi keluarga.

Apa indikator keberhasilan pendidikan nasional kita?

7 indikator keberhasilan pendidikan:

Satu,

Telah terdapat master plan atau grand design pembangunan pendidikan nasional yang memberi ruang bagi penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Dua,

Telah terdapat produk hukum terkait pendidikan yang memberi ruang bagi terselenggarakannya penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Tiga,

Telah terdapat pedoman penyelenggaraan desain pendidikan dan pedoman teknis bagi terselenggaranya penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Empat,

Telah terdapat sistem dan manajemen komunikasi terintegrasi yang  secara efektif mampu mengaktifkan desain dan instruksional pesan-pesan pendidikan untuk memberi ruang hidup bagi terselenggaranya penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika oleh satuan-satuan pendidikan di tiap-tiap daerah.

Lima,

Telah terdapat tutor penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika oleh satuan-satuan pendidikan di tiap-tiap daerah.

Enam,

Telah terdapat praktik penyelenggaraan pendidikan oleh satuan pendidikan yang berorientasi penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Tujuh,

Telah terdapat dukungan politik anggaran yang memadai bagi penyelenggaraan pendidikan berorientasi penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Kedua: Bagaimana Mencapai Keberhasilan Pendidikan Sesuai Indikator?

Bagaimana mencapai target dan 7 indikator keberhasilan pendidikan tersebut?

Ada 7 langkah pula:

Satu,

Memastikan bahwa master plan atau grand design pembangunan pendidikan nasional memberi ruang bagi terselenggarakannya pendidikan yang membuka penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Dua,

Memastikan adanya produk hukum terkait pendidikan yang memberi ruang bagi terselenggarakannya penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Tiga,

Memastikan adanya atau menyusun kembali pedoman penyelenggaraan desain pendidikan dan pedoman teknis bagi terselenggaranya penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Empat,

Menyusun sistem dan manajemen komunikasi terintegrasi yang  secara efektif mampu mengaktifkan desain dan instruksional pesan-pesan pendidikan untuk memberi ruang hidup bagi terselenggaranya penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika oleh satuan-satuan pendidikan di tiap-tiap daerah.

Lima,

Menyiapkan tutor penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika oleh satuan-satuan pendidikan di tiap-tiap daerah.

Enam,

Memastikan adanya praktik penyelenggaraan pendidikan oleh satuan pendidikan yang berorientasi penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Tujuh,

Menjamin tersedianya dukungan anggaran yang memadai bagi penyelenggaraan pendidikan berorientasi penumbuhkembangan kecakapan elementer (basic life skills): kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

 

Ketiga: Implikasi Teknis

Pembentukan kecakapan elementer (basic life skills) yang berisi: kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika yang termaktub dalam 7 indikator keberhasilan pendidikan tersebut, memiliki konsekuensi:

Satu,

Perubahan regulasi pendidikan (UU, PP).

Dua,

Perubahan kurikulum: perampingan kurikulum.

Tiga,

Strategi transformasi keilmuan dalam proses pembelajaran atau “strategi pembelajaran” yang sesuai dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai serta dengan mengoptimalkan potensi lokal/ keunggulan lokal. Termasuk dalam strategi ini adalah optimalisasi fungsi pendidikan informal (keluarga dan sosial) dan optimalisasi fungsi guru, dosen, tutor dalam aktivitas pembelajaran bagi peserta didik atau warga belajar.

Empat,

Menggunakan sistem evaluasi atas implementasi kurikulum yang kompatibel dengan proses pembelajaran.

Lima,

Daya dukung guru, manajemen institusi penyelenggara praktik pendidikan, pemerintah daerah dan masyarakat yang selaras dan kompatibel.

Ringkasnya: untuk mencapai kecakapan elementer (basic life skills) tersebut, anak harus belajar apa (kurikulum)  dan bagaimana caranya (strategi pembelajaran)? Perlukah belajar seluruh mata pelajaran? Atau, beberapa saja? Atau bagaimana? Pelajaran apa yang wajib dipelajari oleh setiap anak? Mengapa? Pelajaran apa yang merupakan “pilihan” ? Mengapa dan bagaimana caranya? Dan, bagaimana cara belajarnya, strategi pengajaran bagi semua anak? Bagaimana jika minim fasilitas? Hidup di perdesaan atau pedalaman yang minim fasilitas? Atau yang hidup di rumah kardus di bantaran sungai, kolong jembatan, dsb.

Kurikulum

Kurikulum didasari oleh semangat dan misi pendidikan yang berorientasi kecakapan elementer (basic life skills) yang berisi: kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Gampangnya: untuk mencapai kecakapan elementer (basic life skills) tersebut, anak harus belajar apa (kurikulum)  dan bagaimana caranya (strategi pembelajaran)? Perlukah belajar seluruh mata pelajaran? Atau, beberapa saja? Atau bagaimana? Pelajaran apa yang wajib dipelajari oleh setiap anak? Mengapa? Pelajaran apa yang merupakan “pilihan” ? Mengapa dan bagaimana caranya? Dan, bagaimana cara belajarnya, strategi pengajaran bagi semua anak? Bagaimana jika minim fasilitas? Hidup di perdesaan atau pedalaman yang minim fasilitas? Atau yang hidup di rumah kardus di bantaran sungai, kolong jembatan, dsb.

Contoh kurikulum untuk pendidikan formal:

Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini

Output Basic Life Skills Mata Pelajaran Metode
Kecerdasan Kontekstual Logika berpikir Bahasa Indonesia

Matematika

Kesenian

Olahraga

Agama/ Etika

Sejarah Bangsa Indonesia

Permainan

Menyanyi

Jalan-jalan

Pengenalan lingkungan (alam, sosial).

Berkebun

Story Telling

Kreatif Creative thinking
Inovatif  

Soft Skills

Tanggungjawab
Beretika

 

Jenjang Sekolah Dasar

Output Basic Life Skills Mata Pelajaran Wajib Metode
Kecerdasan Kontekstual Logika berpikir Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris

Matematika

Kesenian

Olahraga

Agama/ Etika

Sejarah Bangsa Indonesia

IPA

IPS

Permainan

Menyanyi

Jalan-jalan

Pengenalan lingkungan (alam, sosial).

Berkebun

Story Telling, Drama

Project Literasi Kontekstual

Kreatif Creative thinking
Inovatif  

 

Soft Skills

Tanggungjawab
Beretika

Mata Pelajaran Pilihan: Kondisional, disesuaikan dengan kondisi anak dan lokalitas.

 

Jenjang Sekolah Menengah Pertama

Output Basic Life Skills Mata Pelajaran Wajib Metode
Kecerdasan Kontekstual Logika berpikir Bahasa Indonesia

Bahasa Inggris

Matematika

Kesenian

Olahraga

Agama/ Etika

Sejarah Bangsa Indonesia

IPA (Biologi, Fisika, Kimia)

IPS

Diskusi

Pengenalan lingkungan (alam, sosial).

Berkebun

Story Telling, Drama

Project Literasi Kontekstual

Praktikum kelas/ Laboratorium.

Kreatif Creative thinking
Inovatif  

Soft Skills

Tanggungjawab
Beretika

Mata Pelajaran Pilihan: Kondisional, disesuaikan dengan kondisi anak dan lokalitas.

Jenjang Sekolah Menengah Atas

Output Basic Life Skills Mata Pelajaran Wajib Metode
Kecerdasan Kontekstual Logika berpikir Bahasa Indonesia

Kesenian

Olahraga

Agama/ Etika

Sejarah Bangsa Indonesia

Diskusi

Pengenalan lingkungan (alam, sosial).

Berkebun

Story Telling, Drama

Project Literasi Kontekstual

Praktikum Kelas/ Laboratorium

Kreatif Creative thinking
Inovatif  

Soft Skills

Tanggungjawab
Beretika

Mata Pelajaran Pilihan/ Penjurusan: kondisional, disesuaikan dengan kondisi anak dan lokalitas.

Contoh JURUSAN/ Mata Pelajaran Pilihan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas:

IPA: Biologi, Fisika, Kimia

IPS: Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Antropologi, Hitung Dagang

Bahasa Inggris

Bahasa Asing Lain

Keterampilan: Elektronika, Komputer

Jenjang Pendidikan Tinggi: menyesuaikan.

Setiap lulusan pendidikan persekolahan, wajib memiliki skills dasar sebagaimana diprogramkan dalam Output Basic Life Skills.

Sedangkan mata pelajaran pilihan, disesuaikan dengan keminatan dan modalitas subjek belajar.

Desain sederhana ini hanya merupakan percikan pemikiran saya, perlu didiskusikan dan dikonfirmasikan dengan kondisi kontekstualnya.

Dasar argumennya adalah: pendidikan yang bagaimana yang dapat menolong kehidupan seseorang? Tentu, ini tidak hanya berdimensi material semata.

Pendidikan tak sebatas pelatihan. Bahkan pendidikan persekolahan pun sangat perlu direkonstruksi. Ada berapa banyak anak Indonesia yang hidup di luar “kenormalan”. Mereka pun berhak mendapatkan pendidikan! Apakah system pendidikan nasional kita telah menjangkau mereka ini?

Pendidikan nasonal kita berorientasi apakah? Jakarta oriented? Atau contextual-local oriented namun berwawasan nasional dan global?

Kalau ngomongin pendidikan, saya berpaham radikal (hayo pilih radikal atau liberal? Hehe..). Harus dibongkar hingga ke radix-nya, akarnya, barulah boleh ngomongin bikin bagus pendidikan, yakni dasar hukumnya: Undang Undang  dan Peraturan Pemerintah.

Apa gunanya menteri jika hanya akan terpenjara oleh regulasi yang tidak memberi ruang gerak bagi pemercepatan misi pendidikan atau sebutlah “pendidikan progresif-konteketual yang link – match” atau apalah namanya. Omong kosong. Seorang Menteri ibarat menyerahkan kepalanya aja untuk dipenggal oleh tuntutan publik bahkan oleh kepentingan politik.

Tetapi tulisan ini tidak bertujuan untuk melakukan “bedah regulasi”, namun “pemanasan” saja. Yakni dengan menampilkan isu strategis pendidikan yang didahului dengan indikator keberhasilan pendidikan, permasalahan hingga urusan hilir seperti kurikulum, ketenagaan pendidikan, manajemen institusi penyelenggara pendidikan, dsb dan diakhiri dengan “kompatibelkah Nadiem dengan circuit board seperti ini?”. Bukan berarti tulisan ini mewakili seluruh permasalahan pendidikan di tanah air, melainkan “perwakilan” saja dari sekian banyak permasalahan pendidikan.

 

Keempat: Seorang dengan “spec” Nadiem Makarim, kompatibelkah untuk tugas dan fungsi pencapaian poin kesatu – ketiga di atas sebagai creator pendidikan di level kementerian (selaku Menteri)?

Sederhananya (kata publik medsos): Mampukah Nadiem Makarim Memenuhi Indikator Itu?

Mampukah Nadiem Makarim? Banyak pertanyaan bernada semacam ini di medsos. Ini sama dengan bertanya” sesuaikah Nadiem Makarim untuk tugas Mendikbud?

Apakah “spec” Nadiem Makarim sesuai dan klik (fit and proper) dengan tugas-fungsi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? Apa tidak crack dalam proses selanjutnya pasca start-up? Mengingat dia “bukan orang pendidikan” dan “tidak linier”.

Kita tengok, seorang Nadiem Makarim dengan spec-nya khas, ketika dicolokkan ke dalam circuit board Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk me-run-faster-kan circuit board pendidikan, apakah kompatibel? Sehingga circuit board sistem pendidikan bisa running well, produktif, tidak crack di tengah jalan, apalagi crash hingga crash down.

Walaupun untuk kasus crack, kita perlu analisis menyeluruh: yang tidak beres itu circuit board-nya ataukah plugin-nya hehe.. Juga factor firewall haha… Pake VPN bisa gak ya…

Pertanyaan tentang “mampukah seseorang untuk melakukan tugas ini itu” berkaitan dengan, tak hanya faktor personal menterinya, yakni human factor sosok Nadiem Makarim, tetapi juga factor institusional yakni regulasi, institusi kementerian pendidikan dan kebudayaan, aktor internal alias orang-orang penting dan berpengaruh pada kebijakan pendidikan. Para actor ini penting diperhitungkan karena mereka ini memiliki pengaruh besar pada diluncurkannya kebijakan pendidikan. Orang-orang ini bisa di dalam tubuh institusi kementerian, bisa orang luar kementerian tetapi punya relasi kuat dengan kementerian dan berkepentingan pada kebijakan pendidikan yang akan diambil.

Kita bahas satu per satu: human factor Nadiem Makarim, regulasi, kementerian, actor berpengaruh.

Faktor Personal (Human Factor) Nadiem Makarim

Kompatibilitas plugin, eh, orang dengan spec seperti Nadiem Makarim, dengan printed circuit board sistem penyelenggaraan pendidikan nasional dapat ditelusuri dari beberapa hal ini:

Pertama, habitus Nadiem berpengaruh pada cara kerjanya. Habitus, adalah cara hidup seseorang yang terbentuk dari cara pandang, cara pikirm kebiasaan, lingkungan social keluarga, lingkungan social yang lebih luas seperti lingungkan pendidikan, lingkungan kerja, dsb.

Secara logika, sebagai seorang pengendali bisnis berbasis TI dengan elemen pendukung menyebar (armada, mitra), Nadiem memerlukan kemampuan melakukan operation mobilization (operasi mobilisasi) secara efektif.

Kedua, cara berpikir yang terbentuk dari pendidikan dan pengalaman kerjanya. Orang seperti ini saya yakin memiliki pikiran kreatif, inovatif dan ingin terus melakukan pembaruan. Sebagaimana ia membangun dan mengembangkan bisnisnya. Tambahan, bisnis start-up seperti punya Nadiem, memerlukan kreativitas dan inovasi tanpa henti, update pada perubahan sosial yang makin cepat seperti di era milenial ini.

Baca tulisan saya: Perubahan Sosial dan Pembangunan Manusia.

Soft skills dan modalitas elementer seperti inilah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan program yang menuntut update jaman, responsif jaman seperti pendidikan.

Mari kita tinjau sejenak secara ringkas saja, bagaimana Nadiem biasanya mengelola dan mengendalikan usahanya. Ini tentang cara kerjanya. Tinjauan kita lakukan secara “thought experiment”:

Core business Gojek adalah melakukan operasi “community organizing” terintegrasi melalui fungsi connecting terhadap armada transportasi yakni para mitra Gojek (driver Gojek, GoCar), penyedia makanan, toko-toko, penyedia jasa pijat, cleaning service, dan jasa-jasa lainnya.

Perusahaan Gojek tidak memiliki armada kendaraan transportasi, rumah makan, toko, layanan jasa ini itu dan sebagainya. Dia “hanya” menghubungkan (connecting), mengorganisasi (organizing) mirip fungsi “community organizer”, hanya saja “community”-nya berupa para agen jasa (driver, warung, toko, layanan jasa, dll), yang keberadaannya terpisah, tetapi terhubung. Terhubungnya menggunakan bantuan alat TI.

Kendaraan sebagai armada transportasi adalah milik “mitra” yakni para driver yang terdaftar di perusahaan Gojek. Demikian pula warung, toko, dsb.

Kantor-pusat (pusat kendali) Gojek adalah mengandalkan perangkat TI untuk melakukan operasi “community organizing” terintegrasi berikut pengendalian ribuan “unit kerja” yang disebut “mitra” yakni driver Gojek, GoCar yang menghubungkan para pemilik warung, toko, dll.

Operasi “community organizing” terintegrasi ini berisi sistem penyelenggaraan berikut sistem komunikasi, sistem transaksi, yang dari sinilah bisnis Gojek berjalan.

Hadirnya perangkat TI dalam konteks ini merupakan alat bantu dari “sistem bisnis” yang telah dirancang.

Inilah yang disebut: Integrated Community Organizing (Pengorganisasian Komunitas Terintegrasi).

Bagaimana Nadiem memiliki rancangan sistem bisnis dan kemampuan melakukan operasi “community organizing” terintegrasi seperti ini sehingga bisnis Gojek-nya berkembang dan terus berkembang?

Jawabnya: pikiran kreatif – inovatifnya ketika melihat masalah di lapangan, yang di situlah muncul (pikiran tentang) peluang. Ini modal dasar.

Dalam sebuah wawancara yang saya temukan di sebuah Channel YouTube (saya lupa channel-nya, bisa di-search), Nadiem mengaku bahwa ihwal awal dia meng-create Gojek ini adalah ketika dia menemui kesulitan ketika akan berangkat ke kantor (saat dia bekerja sebagai konsultan) di tengah-tengah kemacetan Jakarta.

Mau pakai mobil, macet, tambah lama. Akhirnya dia pakai ojek. Dan dia berlangganan ojek yang sama, walaupun seringkali si ojek datang terlambat.

Dari kesulitan ini, dia berpikir tentang adanya sebuah layanan transportasi sepeda motor seperti ojek tetapi dengan ketepatan waktu yang lebih baik, dan lebih aman.

Lahirlah Gojek, dengan konsep “antar-jemput cepat, tepat dan aman, menembus kemacetan”. Gojek sepeda motor. Kemudian merambah Gojek mobil (diberi nama GoCar), dan seterusnya.

Pertanyaannya: ada berapa orang yang terkena masalah transportasi, hujyan – bechek – gak ada ojyek, ketidakpastian jemputan kendaraan, dsb. Dan mengapa baru seorang Nadiem Makarim yang berpikir untuk menciptakan kemudahan memperoleh sarana transportasi alternatif  dan bermanfaat bagi dua pihak (bagi penumpang ojek dan sopir ojek).

Inilah yang dinamakan pikiran dan sikap ENTREPRENEURSHIP (kewirausahaan). Bersama kesulitan ada peluang!

Sikap entrepreneurship berisi kreativitas, inovatif, sikap pencipta dan mau bekerja keras melakukan pembaruan tanpa henti. Dan itu semua didapat dari habitus keseharian seseorang! Apakah habitus seseorang dapat menumbuhkannya menjadi seorang pencipta, entrepreneur?

Habitus ini terjadi dalam lingkup pendidikan, mulai pendidikan primer, hingga sekunder dst; baik pendidikan formal maupun non-formal dan informal.

Habitus dan modalitas Nadiem: kemampuan melakukan operasi “community organizing” terintegrasi dan ketajaman melihat peluang di balik kesulitan. Jika ditransformasikan untuk meng-kreasi (create) dalam penyelenggaraan pendidikan, akan sangat membantu dunia pendidikan. Di sinilah letak kompatibilitas plugin Nadiem ini. Kompatibilitas plugin yang sekaligus membawa kelajuan performa circuit board sistem pendidikan nasional.

Tentu saja, membina habitus dan modalitas bagi peserta didik dalam kerangka circuit board sistem pendidikan memerlukan daya dukung sebagai berikut:

Satu,

Infra-struktur pikiran yang menyambungkan “gagasan dan konsep baru” pendidikan kepada hirarki organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (pusat) hingga Dinas Pendidikan di Provinsi dan Kabupaten/ Kota dan terus ke institusi penyelenggara pendidikan di daerah-daerah: formal, non-formal, informal.

Dua,

Situasi – kondisi infra-struktur pendidikan beserta institusi pendidikan di daerah.

Tiga,

Profil sosial-budaya masyarakat lokal di daerah tempat praktik pendidikan itu berada.

Empat,

Target luaran praktik pendidikan pada tiap-tiap locus penyelenggaraan pendidikan.

Lima,

Fasilitas dan pembiayaan praktik penyelenggaraan pendidikan di tiap-tiap locus atau daerah.

Untuk itu, perlu mengonkretkan beberapa langkah “kecil” berikut ini sebagai add-on. Langkah-langkah “kecil” (add-on) pada circuit board penyelenggaraan pendidikan yang dapat diperkuat implementasinya secara konsisten oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI adalah, diantaranya:

Satu,

Rancangan keahlian terencana bagi peserta didik sesuai modalitas peserta didik dan konteks kebutuhan lokal dan nasional.

Dua,

Penguatan factor pendukung bagi point satu, yakni: guru dan manajemen institusi penyelenggara pendidikan.

 

Untuk mencapainya, diperlukan:

Satu,

Komunikasi yang “delivered”, tidak hanya “sent” untuk menyambung-hubungkan gagasan dan konsep pendidikan baru dengan seluruh komponen “mitra” eh, simpul-simpul  penyelenggara pendidikan di masyarakat dan keluarga selaku “pemilik” peserta didik atau warga belajar.

Dua,

Penyesuaian kurikulum yang efisien-efektif, ringkas, fokus dan menunjang kecakapan hidup (life-skills) dan selaras dengan keunggulan lokal daerah komunitas praktik pendidikan.

Konkret: perampingan mata pelajaran dan modifikasi strategi pembelajaran untuk peserta didik.

Tiga,

Penyesuaian dengan lokalitas daerah serta kebutuhan dan kepentingan nasional NKRI.

Empat,

Penetrasi dan inkubasi pendidikan karakter, budi pekerti, etika, dilakukan secara terintegrasi dengan seluruh mata pelajaran dan praktik social dalam proses pembelajaran dan arena pendidikan.

Maka, KEBUTUHAN untuk empat upaya tersebut adalah:

Satu,

Merevisi regulasi pendidikan yang mengatur tentang penyelenggraan pendidikan beserta sistem evaluasinya.

Evaluasi pendidikan harus diselenggarakan secara kompatibel dengan desain pendidikan dan strategi pembelajaran peserta didik, sebagaimana deskripsi di atas.

Dua,

Perampingan kurikulum dan men-desain ulang agar kompatibel dengan desain pendidikan sebagaimana deskripsi di atas.

Tiga,

Penguatan Manajemen Institusi Penyelenggara Pendidikan agar lebih fokus kepada penguatan fungsi untuk pencapaian kecakapan elementer (basic life skills) yang berisi: kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika dalam misi institusi penyelenggara pendidikan.

Empat,

Penyelenggaraan proses pembelajaran yang berorientasi pembentukan kecakapan elementer (basic life skills) yang berisi: kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika di arena pendidikan baik formal, non-formal maupun informal.

Mendikbud Nadiem Makarim Bukan “Orang Pendidikan” dan “Tidak Linier”

Kali ini saya tergoda untuk membuat tulisan singkat terkait diangkatnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI yang “bukan orang pendidikan”, “bukan pakar pendidikan” sebagaimana menteri-menteri pendahulunya. Pada momen pengangkatan Menteri-menteri Pendidikan sebelumnya, saya sama sekali tak minat berkomentar. Karena, selaku pelaku pendidikan, insting saya melapor bahwa tak akan terjadi kemajuan signifikan alias datar-datar saja, everything is running as usual, dan tak ada kebijakan pendidikan yang menyentuh persoalan mendasar pendidikan. Ternyata benar.

Pengangkatan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud ini dianggap nyeleneh, “menyalahi kodrat” dan “melenceng dari pakem” dunia persilatan pendidikan tanah air. Melenceng dari tradisi “substansial” juga tradisi politik penjatahan kavling jabatan. Publik pun terkejut-kejut dan bertakon-takon dibuatnya. Terlebih pihak yang merasa jatahnya terserobot, bisa kecewa. Bagaimana mungkin begini…? Di sinilah saya merasa tergiur menulis komentar dalam bentuk tulisan singkat ini.

Dua kali Presiden Joko Widodo membuat kejutan publik ketika mengangkat menteri terkait latar pendidikannya. Pertama, saat mengangkat Susi Pujiastuti menjadi Menteri Perikanan dan Kelautan untuk Kabinet Indonesia Hebat 2014 – 2019. Susi berpendidikan formal SMP kala dilantik sebagai menteri.

Publik ramai, heboh, mencaci. Kemudian setelah tahu kinerja Menteri Susi, publik ramai-ramai memuji hingga merindukannya kembali masuk ke Kabinet 2019 – 2024, walaupun tidak bisa. Kabinet baru tidak memasukkan Bu Susi.

Kedua, saat Presiden mengangkat Nadiem Makarim, pendiri dan CEO Gojek menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk Kabinet Indonesia Maju 2019 – 2024.

Sebenarnya ada tiga sih, dengan Menag. Tetapi biar deh, itu urusan lain… hehe… 🙂

Secara cepat, saya menduga bahwa Presiden bermaksud ingin segera ada perubahan signifikan dan cepat pada dunia pendidikan, secepat Go-Food dan Go-Send. Presiden cuma memberi isyarat “link-match” yang berarti lulusan hasil pendidikan agar bisa nyambung (link) dan sesuai, mathuk (match) atau “match-OK” (masyook) dengan kebutuhan revolusi industri 4.0.

Walaupun terkesan agak dangkal, tetapi tidak salah juga. Link-match ternyata hanya ada pada konsep tertulis saja, tidak aplikatif blas. Dan ini adalah masalah besar dalam penyelenggaraan pendidikan kita. Pendidikan kita hanya menghasilkan  lulusan yang tidak link-match dengan kebutuhan praktis dunia kerja dan dunia usaha secara riil. Ini yang bersifat materiil. Belum yang non-materiil semacam etika, budi pekerti atau  yang disebut “pendidikan (ber)karakter” itu. Jauh panggang dari api bro…

Saya menduga (juga menuduh) pemerintah tidak serius untuk merealisasikan pendidikan yang link-match ini.

Link-match berkonsekuensi pada (setidaknya) adanya desain pendidikan dengan kurikulum yang nyambung sejak pendidikan dasar – menengah hingga pendidikan tinggi bagi peserta didik (tepatnya: subjek-belajar) dengan memperhatikan modalitas elementer subjek-belajar.

Karenanya, bahasan tentang  sistem penyelenggaraan pendidikan dan ”hasil pendidikan” agar link-match, memerlukan pendefinisian secara tepat yakni tepat dengan sikon sosial peserta didik atau warga-belajar atau subjek-belajar.

Berat ini bro… Tetapi Presiden mempercayakan urusan rumit pendidikan ini kepada “seorang pengusaha Gojek” (ini katanya publik medsos loh…). Heboh deh dunia kangouw…

Wah.. orang-orang pada gak tahu nih… bahwa PT Gojek Indonesia bukanlah perusahaan “transportasi online” tetapi “layanan jasa transaksi online” bahkan layanan untuk men-“support gaya hidup manusia modern”.

Saat tulisan ini saya buat dan saya unggah (23 Oktober 2019), publik pun masih heboh. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, beredarlah aneka cuitan, komen, meme tentang Mendikbud baru ini meramaikan jagad twitter, facebook, WhatsApp Group, dan sebagainya. Negeri +62 heboh deh.. Tentu saja, aneka cuitan, meme, komen medsos ini tersaji dengan lucu, namun tampak mengandung ekspresi kegelisahan pembuatnya.

Dunia kita memang dunia cepat, dunia medsos, dunia TI, dunia digital. Segala informasi tersaji dan beredar berikut respons publik berlangsung dengan sangat cepat. Demikian pula dengan Mendikbud baru ini, bahkan “Mendikbud” sempat menjadi trending topic twitter (22 Oktober 2019).

total RT, reply, mentionSaya ungkap juga di sini bagaimana respons publik via twitter. Keyword “nadiem makarim”, dengan filter “mendikbud”, “menteri pendidikan dan kebudayaan” pada kurun waktu 19 – 26 Oktober 2019 memiliki 14.457 tweet dengan retweet sebesar 85.87% atau sebanyak 12.429 retweet yang menunjukkan bahwa angka tersebut adalah jumlah orang yang memiliki pemikiran yang bersamaan.

Percakapan twitter ini menunjukkan trend menaik sejak 20 Oktober hingga klimaks pada 25 Oktober 2019.

Percakapan publik di twitter ini juga menunjukkan bagaimana sentimen publik terhadap isu “nadiem makarim”, “menteri pendidikan dan kebudayaan” ini.

Masih didominasi sentimen negatif (grafik berwarna merah) yang berarti bahwa percakapan itu berisi konten kalimat yang bernada ‘tidak sejalan’ atau ‘tidak mendukung’.

Sentimen positif menduduki peringkat ke-2 dan terakhir, sentimen netral.

Deskripsi ini tidak berpretensi apa-apa, hanya mendeskripsikan secara lugas dari apa-apa yang dipercakapkan oleh publik. Demikianlah adanya, saya sampaikan.. hehe..

analisis medsosNamun, ramainya percakapan publik tersebut terjadi secara natural, artinya dihasilkan oleh akun-akun human (manusia) alias memiliki derajat “bot” (robot) cukup rendah. Dari bot analysis diketemukan total tweet, retweet, reply memiliki bot score 1.59.

Dan akun-akun paling berpengaruh (top influencer) adalah akun @ikramarki dengan 3.549 engagements.

Sedangkan akun kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri, @Kemdikbud_RI hanya sebanyak 613 engagements alias tidak begitu aktif.

analisis medsosData analisis twitter terkait Mendikbud baru ini saya peroleh dari Drone Emprit Academic.

Terkait dunia medsos, internet, perubahan sosial pun berlangsung dengan sangat cepat. Respons terhadap perubahan social (termasuk pendidikan), harusnya juga selaras dengan kecepatan perubahan tersebut.

Terkait dunia medsos, internet, perubahan sosial pun berlangsung dengan sangat cepat. Respons terhadap perubahan social (termasuk pendidikan), harusnya juga selaras dengan kecepatan perubahan tersebut.

Baca tulisan saya: Internet dan Masyarakat di Era Informasi

Tentang Linieritas

Linieritas seringkali dikaitkan dengan pendidikan formal seseorang. Mereka yang “mempersoalkan” linieritas Nadiem rata-rata mengaitkannya dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja Nadiem yang dinilai “jauh dari urusan pendidikan”.

Nadiem adalah pebisnis: pendiri, bos dan CEO Gojek, sebuah perusahaan start-up di bidang transportasi online dan layanan jasa berbasis financial technology (fintech) online.

Dia seorang pengusaha! Bidang usaha di bidang Techology Informatika (TI) dan berpendidikan administrasi bisnis! Bagaimana bisa mengurus pendidikan? Emang lulusan sekolah dan kuliah mau dijadikan mitra Gojek semua? Dan berbagai ujaran senada yang bertebaran di medsos.

Tak disadari bahwa aneka ekspresi candaan tersebut justru menunjukkan kepercayaan dan ekspektasi orang banyak terhadap mantan CEO Gojek ini terhadap lulusan sekolah atau kuliah bahwa mereka akan tertampung bekerja di sektor transportasi online haha… (versi candaan medsos). Mengingat kini juga banyak lulusan sekolah menengah, mahasiswa, lulusan kampus, bahkan guru, dosen dan dokter yang juga nyambil nge-Gojek hehe… *bercanda boss…

Candaan yang bikin miris… Hasil sistem pendidikan negeri +62.. Usai sekolah, kuliah bertahun-tahun, ngabisin duit, umur, cuma berakhir menjadi pengangguran, kerja seadanya, gak nyambung, atau biar gak nganggur, nge-gojek aje… Tu ada kisah driver Gojek yang nyambi kuliah S2 hingga lulus.. Nah loh… Berjasa pula kan Mas Nadiem ini? Hehe…

Mereka yang optimis, yakin Nadiem bakal mampu membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih maju, cenderung mengaitkan dengan usia muda, milenial dan latar belakang professional (pekerjaan, bisnis) di bidang TI, kemudahan fasilitas pendidikan, pembelajaran berbasis TI, pengelolaan manajemen pendidikan berbasis TI, pembinaan skills murid di bidang TI, dst. Kira-kira selaras dah dengan harapan Presiden hehe… *walaupun, ya tidak sebatas itulah…

Tentu saja, imajinasi kegembiraan ber-TI dalam dunia pendidikan ini, dibarengi dengan gerombolan pasukan meme pula, yang mengilustrasikan secara humor, antara lain tentang masuknya aplikasi layanan pendidikan ke dalam aplikasi Gojek: Go-SPP, Go-Guru, Go-Dikbud, Go-Dikti dan kawan kawan.. Dah pada tahu kan… hehe… Dasar netijen +62.. aya aya wae hehe…

Sebelum saya lanjutkan pembahasan kompatibelkah plugin Nadiem Makarim yang ditancapkan pada circuit board system penyelenggaraan pendidikan untuk me-running misi pendidikan dan bagaimana ia merealisasikan misi itu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sekedar informasi, saya tuliskan sekilas tentang Nadiem Makarim.

Nadiem, memiliki nama lengkap “Nadiem Anwar Makarim”, lahir di Singapura pada 4 Juli 1984, dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadrie. Ia menikah dengan Franka Franklin pada tahun 2014, dan memiliki seorang anak bernama Solara Franklin Makarim (Kompas.com).

Nadiem ,menyelesaikan pendidikan SMA di Singapura dan pendidikan tinggi di Amerika Serikat, yakni S1 Hubungan Internasional di Brown University, Amerika Serikat dan S2 Master of Business Administration di Harvard University, Amerika Serikat (Kompas.com).

Sebelum merintis Gojek pada tahun 2010, Nadiem bekerja di McKinsey & Company di Jakarta (2006-2009) dengan jabatan terakhir Managing Director dan salah satu pendiri Zalora Indonesia (2011-2012). Pada 2013-2014, dia bekerja sebagai Chief Innovation OfficerKartuku” di tengah-tengah pengembangan Gojek. Kartuku kemudian diakuisisi untuk memperkuat GoPay. (jakarta.tribunnews.com)

Lebih detil tentang latar belakang Nadiem Makarim, Gojek, GoPay, dapat ditelusuri di internet ya… Go Googling… Saya tak ingin memperpanjang cerita tentang diri Nadiem.

Saya hanya ingin berkomentar tentang tugas baru Nadiem di dunia yang dianggap orang banyak sebagai “bukan dunia Nadiem” pakai banget. Dunia pendidikan bro…! Menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Saya jadi teringat diri saya sendiri. Saya lulusan S1 Hubungan Internasional, S2 – S3 Ilmu Sosial dengan keminatan Ilmu Politik, pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Ketua Dewan Pendidikan di tingkat kota selama 5 tahun (sebelumnya Kabid Litbang Dewan Pendidikan, selama 3 tahun) dan Ketua Forum Dewan Pendidikan se-Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur selama 5 tahun juga. Pada periode tugas tersebut saya belum menjadi dosen. Saya baru menjadi dosen seusai bertugas di Dewan Pendidikan yakni pada tahun 2011, di Prodi Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya. Ndak bunyi ‘pendidikan’ blas..

Tugas yang saya emban adalah  mengelola institusi dan forum pendidikan tersebut untuk melakukan analisis pendidikan baik secara mikro maupun makro kebijakan pendidikan dan menyusun rekomendasi bagi kebijakan pendidikan di tingkat kota/ kabupaten, provinsi dan pusat.

Salah satu rekomendasi kami ke pemerintah pusat kala itu adalah: menghapus Ujian Nasional, dengan beberapa pertimbangan dari aspek filosofis, sosial, politik dan juridis, juga teknis kependidikan.

http://tapalkuda.blogspot.com/2010/03/pertemuan-ke-5-di-kabupaten-jember.html

Informasi tentang hal ini, dapat ditelusuri di Google dengan kata kunci “dewan pendidikan wawan kuswandoro ujian nasional”

Maaf, saya memulai ulasan saya tentang kompatibilitas Nadiem dengan tugas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dengan refleksi diri sendiri, bukan untuk menonjolkan diri, tetapi sekadar untuk memberikan wacana yang berbeda tetapi riil telah terjadi, yakni tentang pertama, persepsi linieritas disiplin ilmu dengan bidang tugas yang diemban.

Linieritas artinya linieritas focus kajian/ study, antara modalitas (disiplin ilmu) dengan objek kajian. Disiplin ilmu berisi seperangkat alat metodik keilmuan meliputi metodologi dan teori untuk menjelaskan objek kajian: masalah social, pendidikan, dsb.

Metodologi dan teori apa yang bisa mengurai, menjelaskan dan menjawab masalah social yang kompleks, dinamis, cepat berubah dan tidak linier?

Masalah pendidikan, adalah masalah sosial, pendidikan hidup dalam habitat sosial, terinkubasi secara sosial, penuh dengan karakter sosial yang dinamis, berubah dengan sangat cepat dan tidak linier.

Kedua, tentang pengelolaan dunia pendidikan, yang memiliki spektrum luas, tak hanya lingkup proses belajar di kelas dan media belajar dan alat evaluasi bahkan tak hanya berhenti pada “8 standard mutu” berikut isu kesejahteraan guru, tetapi juga menyangkut aspek filosofi pendidikan, aspek social, budaya, dan politik dari grand design pembangunan pendidikan nasional.

Yakni tentang bagaimana filosofi pendidikan ini dapat bersambung kepada implementasi proses pembelajaran dan transfer ilmu pengetahuan yang dilakukan guru dengan memperhatikan konteks social-budaya subjek belajar dan kedirian, atau human factors subjek belajar. Sehingga menghasilkan output yang diharapkan. Pendidikan tak lepas dari aspek sosial, budaya, ekonomi, juga politik.

Bagaimana Seorang Nadiem Makarim Akan Mencapai Ini?

Akankah plugin Nadiem Makarim kompatibel dengan circuit board Kementerian Pendidikan Nasional? Sebenarnya analogi plugin – circuit board ini tidak terlalu tepat untuk menggambarkan relasi sebab-akibat untuk memper-kenceng performa circuit board pendidikan. Karena, Nadiem-lah, sebagai leader, nanti yang bertugas melakukan debugging pada circuit board pendidikan, termasuk meng-install anti-virus. Mesin kalau jalannya gak kenceng pasti ada yang gak beres. Banyak keraknya, banyak virusnya. Mosok plugin men-debug dan install anti-virus?

Penggambaran plugin – circuit board ini untuk penggambaran “uji kompatibilitas” relasi personal dengan circuit institusi secara mudah saja. Yakni uji kompatibilitas Nadiem dengan circuit board sistem pendidikan. Perkara nanti dia “terbentur” dan “terpenjara” oleh regulasi pendidikan yang tidak kompatibel atau bahkan “untested”,  itu mah urusan lain haha….

Akankah Nadiem dengan habitus-nya itu mampu men-trigger laju performa circuit eh sistem pendidikan dengan aneka persoalan dan virusnya, sekaligus meng-install anti-virus, agar pendidikan nasional kenceng dan joss performanya? Ataukah sebaliknya, gak ngefek blas.. karena terjebak dan kebulet kerumitan sistem atau tak mampu melawan virus atau bahkan terinfeksi atau terantuk firewall regulasi?

Jika ternyata demikian, ya padha bae Mas Diem.. Mending bikin “Aplikasi Penunjang Pendidikan” aja, gak usah masuk labirin pendidikan. Mungkin kekacauan dan inefektivitas kinerja circuit board pendidikan merupakan berkah dan rejeki bagi pihak-pihak lain.. hehe..

Mungkin bener kegalauanku selama ini, bahwa circuit board pendidikan kita perlu dibongkar total secara gila dan “radikal”. Siapa yang bisa melakukan itu? Nadiem? Kalau bisa ya bagus pake banget itu. Barangkali backing vocal-nya bisa ada gunanya.

Jika gak bisa, ya terpaksa saya bilang, kembalilah ke Gojek aja Mas Diem atau bikin aja Aplikasi Penunjang Pendidikan mirip aplikasi Gojek gitu. Kasih nama Go-Dik atau apa gitu. Saya dulu pernah bikin komunitas “Odik” (Obrolan Pendidikan; “Odik” dalam bahasa local di tempat saya berarti “hidup”).

Bikin aplikasi Go-Dik ayo bro… Isinya mulai e-learning, e-teaching hingga e-e yang lain. Guru dan murid hingga dosen dan mahasiswa se-Indonesia Raya ini pasar yang lumayan lho bro… haha… Aplikasi Go-Dik ini juga men-support pendidikan luar sekolah, dengan menyediakan materi belajar dan disertai dengan penilaian (evaluasi) dan sertifikasi (pengakuan hasil belajar) oleh pemerintah. Sehingga siapapun bisa belajar secara mandiri, di manapun, tidak harus ke sekolah. Kebanyaken sekolah bisa pusing bro… Too much schooling will kill you.. haha… Nah loo… Pecas ndahe ora ki…

Yang sekolah (murid, mahasiswa) ribet dan ilmu sekolahan gak menjamin bisa dipakai untuk hidup, bikin duit. Beban belajar banyak banget jadinya gak fokus. Bisa gak Mas, bikin kurikulum yang ringkas saja tapi menohok, tak perlu jurus kembangan yang hanya menuh-menuhin kepala dan memberati punggung saja. Dan kurikulum itu di-desain nyambung sejak pendidikan dasar – menengah hingga pendidikan tinggi. Sehingga seorang anak yang sekolah, lebih terfokus dan terbentuk kecakapan dan keahliannya sejak SD – SMP – SMA hingga kuliah secara murni dan konsekuen pula. Haha..

Yang ngajar (guru, dosen) juga ribet. Bikin pintar anak orang dengan tuntutan ber-akhlak mulia pula tapi digaji dikit plus bonus janji bisa masuk sorga (beneran masuk sorga gak ni…). Belum lagi dibebani urusan administrasi yang memusingkan kepala sehingga mengurangi produktivitas profesional.  Ini juga satu sisi “kelam” pendidikan kita bro…. Pusing gak loo… Tambah pecas ndahe to.. mantep to… Nanti, di bagian bawah, saya tulis lebih lengkap.. jangan kawatir.

Btw, untuk men-debugging circuit board pendidikan nasional secara murni dan konsekuen biar performanya kenceng dan semburannya kuat, itu perlu energi besar, termasuk biaya, political will pemerintah, bukan political will kosmetik. Perlu dukungan politik anggaran yang serieus dari pemerintah jika maintenance sistem pendidikan ini berkonsekuensi biaya tinggi. Atau jangan-jangan pemerintah cuma berputar-putar saja, cuma main retorika seolah-olah.

Epilog

Link and Match, relevansi pendidikan adalah tentang keberhasilan pendidikan, yakni pendidikan yang diselenggarakan untuk memampukan subjek-belajar untuk memberi nilai tambah bagi lingkungannya secara bertanggungjawab.

Link and Match pendidikan didahului dengan penentuan indikator keberhasilan pendidikan.

Link and Match pendidikan diselenggarakan bagi subjek-belajar dari latar belakang dan kondisi sosial-budaya apapun.

Link and Match pendidikan, adalah yang mampu menciptakan kecakapan elementer (basic life skills) yang berisi: kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika.

Link and Match pendidikan diselenggarakan pada praktik pendidikan dan pembelajaran di mana saja, tak terbatas pada yang disebut sebagai “institusi pendidikan”: sekolah, madrasah, kampus, dsb., tetapi praktik pembelajaran di rumah, surau, masjid, gereja, vihara, bawah pohon, kolong jembatan, bantaran sungai, tempat nongkrong, cafe, warkop dan tempat mana saja yang ada wifi dan akses internet.

Indikator keberhasilan pendidikan adalah sebuah acuan dan arahan bagi desain pendidikan yang diselenggarakan agar mencapai target link and match.

Masalah pendidikan, adalah masalah sosial, pendidikan hidup dalam habitat sosial, terinkubasi secara sosial, penuh dengan karakter sosial yang dinamis, berubah dengan sangat cepat dan tidak linier.

Perubahan sosial, terlebih dengan adanya pengaruh teknologi informasi, internet, mempengaruhi pula perubahan strategi pembelajaran dan strategi pendidikan.

Diperlukan sebuah ‘strategi kebudayaan’ untuk melakukan revolusi pembelajaran dan pendidikan yang selaras dengan karakter jaman.

Revolusi pendidikan yang memfokuskan strategi pembelajaran yang lebih efektif, kontekstual lebih dibutuhkan subjek-belajar generasi milenial, generasi Z, Gen Z, Gen Alfa.

Pendidikan diproyeksikan untuk mampu men-support subjek-belajar untuk bisa hidup dan menakhlukkan kehidupan di 10 atau 20 tahun ke depan.

Membuat perbaikan pendidikan, melibatkan keseluruhan komponen besar circuit system board pendidikan.

Ketika sistem lambat, output kurang optimal, pasti ada gak beres dalam circuit system board itu. Debugging, install anti virus.

Dari mana pekerjaan besar mengurai benang kusut dalam circuit system board pendidikan ini? Alias, untuk meneguhkan fungsi pendidikan berikut implementasinya secara fundamental dan operasional, dimulai dari mana?

Menginjeksikan plugin dan add-on pada circuit board pendidikan untuk memper-joss performa pendidikan, membutuhkan beberapa konsekuensi yang harus diterima: oleh pemerintah dan oleh masyarakat pendidikan.

Mungkin ada perubahan, penambalan, tambah-kurang dsb, yang membutuhkan komunikasi efektif dengan masyarakat agar tidak menimbulkan shock pada masyarakat; reasoning yang jelas, masuk akal dan kontekstual. Bukan luncurin program, setelah diprotes orang, dibatalin.

Yang repot, jika program progresif, terukur, applicable, support kepada pendidikan progresif seperti muatan tulisan ini (cieee…), yakni pendidikan berorientasi pembentukan kecakapan elementer (basic life skills) yang berisi: kecerdasan kontekstual, kreatif, inovatif, tanggungjawab dan beretika tetapi tidak terdukung regulasi.

Nah, bisa menggunakan jurus oculus reparo untuk mereparasi atau menambal-sulam kelemahan circuit board pendidikan, atau wingardium leviosa, mengangkat orang-orang inovatif untuk me-levitate elemen-elemen kunci yang mendukung.

Terhadap virus pendidikan, yang suka mengambil keuntungan dari penyelenggaraan pendidikan yang lemot, gak jelas target penciptaan skills bagi peserta didik atau warga belajar, jangan segan gunakan imobulous, rictusempra atau expelliarmus.

Saya yakin sampeyan punya kapabilitas, dan (insya Allah) ada kompatibilitas dengan circuit board ini, jangan gunakan parceltongue ya, karena hanya pemilik ilmu, ular, Tom Riddler dan Voldemort aja yang ngerti. Orang lain gak ngerti.

Jika mentok, Mas Nadiem bisa gunakan jurus pamungkas expecto patronum (expecting the patron) berupa dukungan politik untuk mengubah regulasi pendidikan yang tidak supported atau incompatible.

Jika circuit board terancam crack karena ada “penolakan gawan bayi atau cacat bawaan” dalam circuit board semi-karatan ini, jangan segan untuk crack down (ambil tindakan keras) ya. Ingat, expecto patronum. Mosok patron-e sampeyan gak kanggo.

Jika sampeyan sulit mengembangkan pikiran, ide dan action karena tersandera kepentingan politik, bahkan ekonomi-politik, mungkin circuit board itu ya sudah takdirnya begitu itu. Tetapi jangan kuatir, circuit board itu dari sono-nya sudah dilengkapi dengan “self-destruction” yang akan meleduk secara otomatis jika sudah “tiba titi mangsane”.. hehe.. Sampeyan bikin Go-Dik aja.. haha…

Saya gunakan icon-icon seperti imobulous, rictusempra atau expelliarmus, expect patronum dkk adalah karena ilustrasi pendidikan (sekolah) model Hogwart School itu menarik, setidaknya pada praktik pembelajaran untuk murid. Boleh diadopsi.

Kita masih belum saatnya menggunakan avada kedavra, dan entah untuk siapa itu diarahkan.

“Selamat bekerja, Mas Nadiem (niru Pak Presiden), Mas Menteri (niru kata sampeyan sendiri)” ***

“Selamat Bekerja, Mr. NMax…”

 

Wawan E. Kuswandoro

Pengajar di FISIP Universitas Brawijaya, Pendiri Sekolah Politik “Wacana Kita”, Peminat Politik Sehari-hari (Everyday’s Politics)Politik Digital.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Probolinggo Jawa Timur (2005 – 2011).

Koordinator Forum Dewan Pendidikan se-Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur (2005 – 2011).

Pendiri dan Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum SMK Kesehatan Bakti Indonesia Medika, Probolinggo (2009 – 2010).

https://wkwk.lecture.ub.ac.id

Referensi:

Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Kuswandoro, Wawan E., Sekolah Publik, artikel, 2019. https://wkuswandoro.wordpress.com/2019/02/23/sekolah-go-public/

Kuswandoro, Wawan E., Reformasi Birokrasi Pendidikan Dalam Perspektif Politik, Jurnal Jejaring Administrasi Negara, UNAIR, 2010.

Kuswandoro, Wawan E., Menggugat Sistem Pendidikan Nasional, artikel seminar, 2008.

Kuswandoro, Wawan E., Ujian Nasional Tidak Cukup, artikel, 2006.

Kuswandoro, Wawan E., Revitalisasi Pembangunan Pendidikan Kota Probolinggo, diktat, 2006.

Rekomendasi Forum Dewan Pendidikan se-Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur, 2007.

Pengalaman selama bertugas sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Probolinggo (2005 – 2011), Ketua Forum Dewan Pendidikan se-Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur (2005 – 2011).

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/07/12/transformasi-konstruksi-identitas-dalam-budaya-kontemporer/

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/07/09/perubahan-sosial-dan-pembangunan-manusia/

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/08/30/modal-sosial-manajemen-pengetahuan-dan-peran-teknologi-informasi/

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/07/25/internet-dan-masyarakat-teori-sosial-pada-era-informasi/

https://wkuswandoro.wordpress.com/2016/01/31/pemikiran-pierre-bourdieu-dalam-memahami-realitas-sosial/

https://wkuswandoro.wordpress.com/2017/09/04/konstruksi-sosial-atas-realitas-sosiologi-pengetahuan-fenomenologi-filsafat-ilmu-dan-wacana/

https://miracleways.com/2017/05/02/penguatan-energi-belajar-menyikapi-cacat-bawaan-praktik-pendidikan-persekolahan/

https://miracleways.com/2015/12/01/soft-skills-dan-kesuksesan-hidup/

https://miracleways.com/2011/02/02/creative-thinking-skills/

 


Leave a Reply (Tulis Balasan atau Komentar)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s