PROFIL

Wawan Kuswandoro, disingkat WK. Inisial WK ini paling populer sejagad medsos Indonesia lho.. wkwkwk…

Nah kaan… 🙂

Dan, merk “Wawan” pun sangat populer dan laris manis. Anak kecil pun tahu (know), bukan ‘tahu’ yang digoreng, bulat di mobil itu… 🙂

Anda tahu “Es Wawan”, “Soto Wawan”? Nah.

Saya tinggal di daerah yang memiliki gunung Bromo dan masyarakat Tengger dan punya angin Gending serta pohon mangga dan anggur. Namun kini, popularitas dan elektabilitas ‘anggur’ sedang tergeser oleh ‘kelor’ (morringa) yang barangkali siap menggantikan icon kota yang saya tinggali ini. Dan, morringa, di sini disebut “marongghi”. Nah, beda dikit kan, cuma dibalik…

Saya seneng nulis, baca, berselancar di jagad internet, menemui hal-hal baru yang menantang jiwa raga… Itu yang di dunia angkasa. Dunia revolusi industri 4.0…haha… Sedangkan yang di dunia pijak-bumi, saya juga seneng berselancar di bumi, menemui orang-orang (iya lah, masa nemui genderuwo) 🙂 Nemuin orang-orang kreatif, dan menemukan hal-hal baru yang unik dan bermanfaat. Masyarakat kita sungguh sangat kaya! Alam sekitar juga sangat kaya!

Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan..

Merokok sejak sunat (khitan), karena adat, dan terbawa hingga SMP, SMA dan kuliah S1 hingga S2. Tapi saya bukan perokok berat, tetapi ‘perokok sosial’. Merokok jika ada teman. Kemudian, ber-tobat nasuha stop smoking sejak 2011 dengan kesadaran sendiri sepenuh jiwa raga. Tidak terpengaruh fatwa haram rokok, juga bukan karena takut sakit apalagi takut ancaman pura-pura dari pemerintah sejak “merokok menyebabkan impotensi dan kehamilan bla bla itu” hingga “merokok membunuhmu”. Kala itu belum musim ‘fatwa haram’ rokok. Saya berhenti merokok karena ‘memang ingin berhenti’ dan lebih merasa nyaman dengan ‘tidak merokok’. Hingga kini pun saya tidak merokok. Kalian yang ingin berhenti merokok dengan alasan apapun, silakan pakai trik stop smoking saya ya.

Ini pengalaman saya: Stop Merokok secara otonom – partisipatif…

Jika tak ingin berhenti merokok, juga tidak apa-apa. Percayalah, kalian para perokok sesungguhnya adalah pahlawan pendidikan, jihader pendidikan. Karena kalian-lah produsen rokok bisa membiayai yayasan pemberi beasiswa yang sangat berguna bagi anak-anak Indonesia. Setidaknya, hidup kita bermanfaat bagi orang banyak.. Iya kan… hehe… 🙂

dog training at Brisbane pinggiran

Ah.. bicara tentang rokok sangat dilematis. Iklan sosial pemerintah tentang rokok pun masih berkutat tentang “pelarangan peredaran rokok tanpa cukai” yang disebutnya “rokok ilegal”.

Orientasinya ketara: demi cukai! Emang sih, pendapatan pemerintah tersebsar dari cukai rokok/ tembakau!

Terima kasih para perokok.

Maafkan, saya terpaksa menghentikan bantuan saya untuk negara, dengan berhenti merokok sejak tahun 2011!

Tetapi saya masih membantu pemerintah kok. Yakni melalui pembelian produk yang juga direstui pemerintah. Tapi ini dulu. Kemudian stop juga. Lho. Iya. Alasan kesehatan.

Yang ini produk minuman “berenergi”. Ya. Ada saat-saat tertentu tubuhku (dulu) merasa lemas sehingga membutuhkan asupan energi dari cairan yang konon sempat disebut sebagai “minuman setan”. Saya akhirnya menghentikan konsumsi itu karena kasihan sama setan. Mosok minumannya kuminum…  Lha dia minum apa… wkwkwk…

Aku minum itu ya karena itu memang minuman yang dijual dan diperbolehkan oleh pemerintah.

Hayoo.. kalau ada yang bilang minuman ini buruk dan meminumnya adalah sebuah keburukan, berarti sama dengan mengatakan: pemerintah adalah penyebar keburukan!

Saya memutuskan berhenti ‘minum’ dan berhenti mengoleksi botolnya bukan karena hukum ‘haram’ yang melekat pada minuman ini, tetapi karena ‘sayang sama dia yang kini menjadi istriku’. Mosok, perempuan cantik berhijab (waktu itu disebut “jilbab”), aktivis organisasi mahasiswa Islam kok jalan bareng sama cowok gondrong yang suka “minum”. Aku tak mau menodai atribusi sosial dia yang bersih.

Nah, salah apa sih aktivitas ‘minum’ dan ‘minuman’ ini, harus menanggung beban derita sosial hingga seseorang harus menyingkirkannya demi memperoleh insentif sosial? Sama halnya dengan anjing yang juga ciptaan Tuhan. Salah apa dia sehingga banyak orang harus memusuhinya, menjauhinya, bahkan membencinya. Sadisnya, di sebuah perkampungan, seekor anjing kecil terpaksa harus terkapar di jalanan, mati dengan kepala pecah terkena lemparan batu berjamaah dari beberapa bocah santri yang terbiasa hidup dalam diskursus keagamaan, tatkala si anjing tersebut berlarian melintasi jalanan!

Kasihan kau, makhluk Tuhan yang sedang disabda untuk berperan menjadi anjing di dunia-sandiwara ini. Tolong kau jangan protes kepada Tuhan ya.. apalagi mendoakan buruk mereka yang menyambitmu hingga mati dan mereka yang memusuhimu. Mereka hanya belum mengerti. Maafkan ya Njing…

Tentang minuman yang tadi…

Lho, minuman keras kan diharamkan oleh agama.. | Iya bener.. Itu kan urusannya seseorang sama Tuhan-nya, ndak ada kaitan blas sama orang lain. Kenapa secara sosial juga dipersoalkan? Urusan sosial (muamalah), adalah ‘berbuat baik terhadap sesama manusia’. Titik.

Namun, demi cinta kasihku pada dia, aku rela melindunginya dengan menyelaraskan diri dengan konstruksi sosial tentang “minuman beralkohol” beserta atribusi sosial orang yang meminumnya.  Padahal ia kan cuma minuman, sebuah menu pilihan di antara seabrek pilihan di super market. Sebuah pilihan personal yang diseret-seret ke ranah sosial, ranah publik!

Konstruksi sosial memang kejam sodara… Dan saya pun memilih untuk tunduk taat dengan konstruksi sosial ini aja ah..

Untuk urusan lain, peduli amat. Gunung mau meletus silakan aja.. 🙂

Hebat pula pengaruh seorang perempuan ini pada diriku…. hoho… 🙂

Terima kasih Tuhan.. Engkau mengirim sosok makhluk-Mu ini untuk mendampingiku.. Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan….

Kini, tinggal kopi dan teh yang sesekali kuminum, itupun sangat jarang. Pagi haripun aku lebih suka menenggak air putih. Dan tentu saja, air putih (fresh water), yang walaupun perutku jadi mendadak mual saat minum air putih, kuminum juga hingga 2 liter sehari.. hehe… Pola hidup sehat ya…. haha… Jus buah juga suka. Tapi lebih suka buah-buahan yang langsung kublender di mulutku. Buah apa saja masssyyoookk… buah pare (paria) yang pahit juga massyyook… tapi dimakan sama sambal.

bikin hot food bareng Masaki Kubota

Makanan, semua suka (omnivora nih 🙂 ). Apalagi nasi panas, diceplokin telor mentah, aduk, jadinya agak hangat, dimakan sama sambal ukuran 7 cabai plus sayuran, petai mentah, buah pare mentah dan takokak mentah dan dedaunan. Pakai ikan asin, ikan laut, ikan tongkol (awas bacanya 🙂 ), juga monggo. Nih, kalau ada menu ini sama pizza disodorin ke saya, saya bakal pilih yang sambelan ini.

Kemudian pizza… haha…

Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan..

Makanan Londo juga doyan kok…  Makanan Jepang menempati ranking 2 setelah sambelan Jawa. Sukiyaki, teriyaki, sushi, sashimi, sup miso, katsubushi bahkan hijiki juga mau. Kalau hoka-hoka bento mah bukan makanan Jepang lagi tu…. Itu mah obentoo atawa bontotan anak-anak… Eh, jangan-jangan “obentoo” itu berasal dari kata “bontotan” ya… Dan sushi niru lemper Jawa.. haha… 🙂

Wawan Kuswandoro
walking to Lake Manchester

Saya suka jalan-jalan ke sungai, danau, pantai, juga ke gunung (gunung Bromo), bukan gunung Semeru. Saya suka ngobrol sama orang-orang Tengger. Kalau yang naik gunung Semeru, itu anak kedua saya, Nikko Reza. Kakaknya, si sulung Nikko Akbar kurang suka naik gunung, walau masa kecilnya dulu pernah kuikutkan klub wall climbing. Dari SMP dia sukanya nulis dan berdebat di depan publik. Kini, mereka sedang studi di Tiongkok. Si kakak, di Chongqing, belajar kedokteran. Si adik, di Zhuhai, belajar bahasa Mandarin kemudian geser ke Guangzhou untuk belajar IT melanjutkan pelajaran IT Games Development yang tahun lalu dipelajarinya di KDU Selangor, Malaysia. Anak ini demen banget IT. Sejak bayi sering kami ajak bekerja di depan komputer. Eh, TK sudah suka nongkrong di depan komputer. Kala SD suka utak-atik HP, di-protholi, SMP dia mengkanibal tab-ku. SMA, hobi kanibalisasi makin menjadi, nitip beberapa spare part ke kakaknya yang di Tiongkok, ketika kakaknya pulkam, dirakitnyalah  screen tab-ku dan beberapa spare part-nya dijadikan CPU seukuran bungkus rokok hasil kanibalan tab dan laptop.

Nikko and Nikko anakku

Sedangkan si kakak, suka biologi sejak SMP. Ketika SD suka berpetualang dengan tetumbuhan dan hewan di alam lepas, dan merasa bosan di sekolah dan pernah minta berhenti sekolah karena gak cocok dengan cara belajar di sekolah. Masa kecil (TK) hobinya main-main sama tetumbuhan dan binatang-binatang kecil. Pernah mengumpulkan bekicot dan menjajarnya berbanjar seperti tentara berbaris. Pada masa-masa sebelum TK, kusodorin dia buku-buku. Lha yang disukai kok buku-buku yang banyak gambar binatang dan tetumbuhan. Anak-anak kecil kan suka binatang dan tetumbuhan… Dunia masa kecilnya, membawanya ke dunia-hidup masa dewasanya kini..

Nah, jika ingin “mem-program” anak atau mengarahkan agar suka sesuatu hal, mulailah sejak anak masih kecil banget.. hehe.. Jangan ketika dah gede, anak dipaksa-paksain masuk jurusan ini itu obsesinya orangtua… haha….

Ya.. saya memang kurang percaya pada praktik pendidikan persekolahan. Mereka sering kebalik-balik membuat tafsir implementatif pendidikan. Tapi ndak pa-pa lah. Seburuk apapun, tetap kita butuhkan. Minimal, untuk selembar ijazah sebagai syarat melaju ke jenjang berikut. Iya kan… 🙂

Kini, semoga anak-anakku bahagia walau jauh dari orangtuanya. Orangtua mah tinggal support aje.. ame doa… Kini, mereka berdua telah sangat menikmati dunianya. Keduanya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT). Kakaknya pernah menjabat ketua PPIT Cabang Chongqing. Kini ia menjabat Dewan Penasehat di kepengurusan pusat PPI Tiongkok, dan sering ngelencer keliling Tiongkok gratis, malah dibayar lagi. Si adik, masuk di kepengurusan PPIT ranting SYSU Guangzhou.

Mereka memiliki dunianya sendiri. Dunia, dengan diskursus milenial, yang sama sekali berbeda dari dunia jaman bapaknya ini.

Mereka juga memiliki akses informasi dan komunikasi ke pabrikan Tiongkok dan perusahaan ekspedisi (shipping) Tiongkok – Indonesia.

Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan..

 

Ngikutin jalannya pemilu di Queensland State, Australia.

Saya, selaku orang yang sedang menua, sama kayak kebanyakan orang-orang seumuran saya, 50-an tahun, urusannya kan cuman menyongsong kuburan doang.. hehe… Cuman, gimana caranya agar masa penantian ini bisa sembari bermanfaat bagi orang lain, bagi sesama manusia, sesama makhluk Allah. Aamiin.

Karena, setiap keberadaan makhluk Tuhan, adalah sumber pembelajaran. Dan, alam sekitar, adalah tanda-tanda nyata kekuasaan Tuhan.

Sesekali menoleh ke belakang boleh, melihat kaca spion, untuk memastikan jalan ke depan lebih baik.

Sambil menikmati karunia Tuhan, saya memberikan layanan konsultasi “sehat-batin” dengan pendekatan hipno-meditasi, baik privat maupun group, juga layanan konsultasi politik, sambil menyelesaikan disertasi bertema genealogi partai politik, sebelum back to campuss, UB di Malang.

Di usiaku yang setengah abad kini, aku hanya bisa berharap agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Sejauh mana jangkauanku? Semoga bisa sejauh mungkin.

Karena Kalian, Maka Aku Ada! 你 们 使 我 在

Wawan Kuswandoro dan Anis Zahra

 

 

 

 

 

 

 

Profil saya di Universitas Brawijaya

Profil saya di ResearchGate

Profil saya di MiracleWays.com

Pengelola situs www.KuliahTiongkok.com

wkuswandoro(at)gmail.com

wkuswandoro(at)ub.ac.id

Updated, 17 September 2019